Gacha di Benteng Jiwa Terlupakan
Public Story

Gacha di Benteng Jiwa Terlupakan

Kamu membuka mata di atas batu dingin. Langit di atasmu kelabu, bukan abu-abu biasa melainkan warna yang sepertinya menyerap cahaya.

UnyieldingLoom561
AuthorUnyieldingLoom561
Created29. August 2026
Chapters216

Story context

Initial situation

The story is "mystery" themed. The name of the start setting starts with a "F".

Chapter samples

1
Chapter 1
Tap to expand and read the excerpt

Kamu membuka mata di atas batu dingin. Langit di atasmu kelabu, bukan abu-abu biasa melainkan warna yang sepertinya menyerap cahaya. Udara terasa berat, bercampur aroma belerang dan sesuatu yang lebih tua—seperti perpustakaan yang terbakar seribu tahun lalu. Di kejauhan, siluet menara-menara patah menjulang seperti jari-jari kerangka rak...

Kamu membuka mata di atas batu dingin. Langit di atasmu kelabu, bukan abu-abu biasa melainkan warna yang sepertinya menyerap cahaya. Udara terasa berat, bercampur aroma belerang dan sesuatu yang lebih tua—seperti perpustakaan yang terbakar seribu tahun lalu. Di kejauhan, siluet menara-menara patah menjulang seperti jari-jari kerangka raksasa yang mencengkeram cakrawala. Fortress of Forgotten Souls. Nama itu muncul di kepalamu tanpa diundang, seolah ditanam oleh seseorang—atau sesuatu—jauh sebelum kamu sadar di sini. Kamu duduk perlahan. Tubuhmu terasa aneh. Lebih ringan, tapi juga lebih tajam. Setiap suara terdengar terlalu jelas: derit batu bergesekan, desiran angin yang membawa bisikan-bisikan tak jelas, dan detak jantungmu sendiri yang berdegup dalam ritme asing. Lalu, sebuah suara menggema di dalam pikiranmu. Sistem Gacha Iblis diaktifkan. Selamat datang, Tuan. Anda memiliki satu undian gratis untuk memanggil pasukan iblis atau ratu dunia lain. Kamu menelan ludah. Tidak ada panel holografik, tidak ada layar biru—hanya sensasi seperti ada sesuatu yang berputar di belakang matamu. Sebuah roda raksasa, gelap dan berkilauan, dengan simbol-simbol yang tidak bisa kamu baca tapi entah bagaimana kamu pahami. Apakah Anda ingin menarik sekarang? Kota mati di depanmu bergemuruh pelan. Dari celah-celah batu, kabut tipis merayap keluar, membentuk wajah-wajah tanpa mata yang menjerit dalam diam. Mereka tidak mendekat—belum. Tapi mereka memperhatikanmu dengan cara yang membuat tulang belakangmu merinding. Jari-jarimu mengepal tanpa sadar. Kamu tidak tahu bagaimana caranya sampai di sini. Tidak ingat kematianmu, tidak ingat pilihan apa pun. Yang kamu tahu, tempat ini tidak ramah, dan sesuatu di dalam dadamu—naluri yang lebih tua dari dirimu yang dulu—berbisik bahwa kamu harus segera memiliki sekutu. Atau kamu akan menjadi bagian dari benteng ini selamanya.

2
Chapter 2
Tap to expand and read the excerpt

Pertanyaan itu meluncur dari bibirmu sebelum kamu sempat berpikir dua kali. "Bisakah aku dipindahkan ke tempat lain?" Keheningan sejenak. Lalu suara itu kembali, dingin dan jelas seperti air yang mengalir di atas batu. Sistem dapat memindahkan Tuan ke lokasi mana pun yang telah terpetakan di dunia ini—atau dunia lain. Tuan hanya perlu ...

Pertanyaan itu meluncur dari bibirmu sebelum kamu sempat berpikir dua kali. "Bisakah aku dipindahkan ke tempat lain?" Keheningan sejenak. Lalu suara itu kembali, dingin dan jelas seperti air yang mengalir di atas batu. Sistem dapat memindahkan Tuan ke lokasi mana pun yang telah terpetakan di dunia ini—atau dunia lain. Tuan hanya perlu menyebutkan namanya. Kamu menghela napas, merasa sedikit lega. Benteng ini, dengan kabut berwajah dan menara patahnya, bukanlah tempat yang ingin kamu jadikan rumah pertama. Kamu memejamkan mata, mencoba mengingat nama-nama yang terlintas di benakmu—fragmen dari kehidupan sebelumnya, mungkin, atau bisikan dari sistem itu sendiri. "Yggdrasil," katamu akhirnya. "Hutan lebat di bawah naungan Pohon Dunia. Tempat yang gelap dan liar." Sistem merespons tanpa jeda. Lokasi dikonfirmasi. Yggdrasil, Hutan Bayangan Abadi. Membuka portal. Di depanmu, udara bergetar. Retakan tipis muncul di ruang kosong, melebar seperti celah kaca yang pecah perlahan. Dari dalamnya, cahaya hijau kehitaman merembes keluar, bercampur aroma tanah basah dan daun busuk. Portal itu tidak besar—cukup untuk satu orang melangkah masuk—dan di baliknya kamu bisa melihat samar-samar batang-batang pohon raksasa yang menjulang seperti pilar-pilar katedral alam. Kota mati di belakangmu mengerang. Kabut-kabut itu mulai bergerak lebih cepat, seolah mereka menyadari bahwa mangsanya akan melarikan diri. Kamu tidak menoleh. Satu langkah, dan kakimu menyentuh tanah yang berbeda—lembab, empuk, penuh akar yang meliuk seperti urat nadi raksasa. Portal menutup di belakangmu dengan desisan pelan, meninggalkanmu dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh pancaran samar dari lumut-lumut bercahaya di batang pohon. Hutan Yggdrasil menyambutmu dengan keheningan yang berat. Tidak ada angin. Tidak ada suara serangga. Hanya debaran samar dari tanah, seperti jantung raksasa yang berdetak jauh di bawah akar-akar pohon. Di kejauhan, di antara celah-celah batang raksasa, sesosok bayangan bergerak—terlalu cepat untuk dilihat, terlalu besar untuk diabaikan.

3
Chapter 3
Tap to expand and read the excerpt

Kamu berdiri diam di tengah hutan yang sunyi, merasakan getaran aneh dari tanah yang naik melalui telapak kakimu. Lumut bercahaya di sekelilingmu berdenyut pelan, seolah mengikuti irama detak jantung dunia di bawah sana. "Apakah ada lokasi yang cocok untuk membangun kerajaan di hutan ini?" tanyamu pada sistem. Suara itu muncul di kepala...

Kamu berdiri diam di tengah hutan yang sunyi, merasakan getaran aneh dari tanah yang naik melalui telapak kakimu. Lumut bercahaya di sekelilingmu berdenyut pelan, seolah mengikuti irama detak jantung dunia di bawah sana. "Apakah ada lokasi yang cocok untuk membangun kerajaan di hutan ini?" tanyamu pada sistem. Suara itu muncul di kepalamu, tenang dan pasti. Hutan Yggdrasil adalah wilayah netral. Tidak ada faksi yang mengklaimnya. Tuan dapat membangun kerajaan dengan tenang di sini. Sistem akan melindungi Tuan dari ancaman dunia luar selama area dasar pertahanan belum terbangun. Kamu mengangguk pelan. Itu kabar yang lebih baik dari yang kamu harapkan. Tempat ini liar dan gelap, tapi setidaknya tidak ada yang akan menyerangmu dari luar—setidaknya untuk saat ini. Satu pertanyaan lagi menggelitik di ujung lidahmu. "Fitur top up?" kamu bertanya, setengah berharap. "Apakah sistem memilikinya?" Keheningan sejenak sebelum jawaban datang. Fitur top up tersedia. Namun, fitur ini terkunci hingga Tuan mencapai level 10. Saat ini, level Tuan: 1. Fokus utama Tuan saat ini adalah bertahan hidup dan mendapatkan sekutu pertama. Kamu mendesah pelan. Level sepuluh. Itu berarti kamu harus bertahan, menjelajah, dan mungkin bertarung sebelum bisa mengakses kemudahan itu. Tapi setidaknya ada harapan—sistem ini tidak sepenuhnya tanpa belas kasihan. Lumut di batang pohon terdekat memancarkan cahaya biru kehijauan, cukup untuk melihat beberapa meter di sekitarmu. Akar-akar pohon menjulur seperti ular raksasa yang tertidur, sebagian tertanam dalam tanah lembab, sebagian lagi meliuk di permukaan. Di kejauhan, batang-batang pohon Yggdrasil menjulang begitu tinggi hingga puncaknya hilang dalam kegelapan di atas. Bayangan yang tadi kau lihat—apakah itu masih ada di luar sana? Atau hanya imajinasi yang dipicu oleh ketegangan? Kamu merasakan beban di dadamu. Hutan ini tidak ramah, tapi juga tidak langsung bermusuhan. Ini adalah kanvas kosong—liar, mentah, dan menunggu untuk dibentuk. Tapi untuk membentuknya, kamu butuh tangan. Butuh sekutu. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya sekarang adalah dengan menarik undian gacha pertamamu.

Read more
Go to Top