
Kedatangan Sang Agen
Matahari sore menggantung rendah di ufuk Bandung saat Reyhan Febriansyah melangkah keluar dari pintu belakang Gelora Bandung Lautan Api. Keringat masih membasahi kaus latihannya, menempel tipis di kulit putih bersihnya yang mulai kecokelatan terkena matahari.
Story context
World description
earth
Initial situation
Reyhan Febriansyah ketika baru habis latihan di gelora Bandung lautan api ia heran melihat mobil mewah terparkir di depan rumahnya dan saat ia masuk ia melihat ayahnya ibunya sedang duduk bersama seorang pria yang memakai jas ternyata pria itu adalah Jhonatan Barnett agen sepak bola internasional yang ingin menjadi agennya
Objective
menjadi pemain terbaik dunia dan membawa Indonesia menjadi juara piala dunia
Character introduction

Reyhan Febriansyah
Role: pemain sepakbola
Chapter samples
1Chapter 1▾
Matahari sore menggantung rendah di ufuk Bandung saat Reyhan Febriansyah melangkah keluar dari pintu belakang Gelora Bandung Lautan Api. Keringat masih membasahi kaus latihannya, menempel tipis di kulit putih bersihnya yang mulai kecokelatan terkena matahari. Ia menarik napas panjang, menghirup udara hangat yang bercampur aroma rumput dan...
Matahari sore menggantung rendah di ufuk Bandung saat Reyhan Febriansyah melangkah keluar dari pintu belakang Gelora Bandung Lautan Api. Keringat masih membasahi kaus latihannya, menempel tipis di kulit putih bersihnya yang mulai kecokelatan terkena matahari. Ia menarik napas panjang, menghirup udara hangat yang bercampur aroma rumput dan tanah lapangan. Latihan hari ini terasa berat. Ia memaksakan diri berlari sprint dua puluh kali lebih banyak dari yang diminta pelatih. Kapten tim junior bahkan harus menegurnya—lagi-lagi. Tapi Reyhan hanya tersenyum dan mengangguk sopan, lalu diam-diam melanjutkan latihannya begitu semua orang berpaling. Motor tua ayahnya terparkir di tempat biasa. Tapi sesuatu yang lain menarik perhatiannya. Sebuah mobil hitam mengilap terparkir di depan rumahnya yang sederhana. Bukan sekadar hitam—kilau catnya berkilauan seperti permata di bawah sinar mentari. Reyhan mengerjapkan mata, memastikan ia tidak salah lihat. Mobil seperti itu tidak pernah ada di perumahannya. Merek asing yang bahkan tidak ia kenali, tapi jelas harganya bisa membeli sepuluh rumah seperti miliknya. Ia merasakan dadanya berdegup sedikit lebih cepat. Bukan karena cemas, tapi karena sesuatu di dalamnya berbisik bahwa ini bukan sekadar tamu biasa. Reyhan mendorong pintu rumahnya. Suara engsel berderit pelan, seperti biasa, dan dari ruang tamu terdengar suara ibunya yang lembut dan tawa kecil ayahnya. Ia melepas sepatu ketsnya dengan gerakan cepat, lalu berjalan masuk. Di ruang tamu, ibunya duduk di kursi kayu sederhana sambil memegang cangkir teh. Ayahnya duduk di sampingnya, masih mengenakan kemeja batik lusuh yang biasa ia pakai bekerja di bengkel. Di seberang mereka, di kursi tamu satu-satunya, duduk seorang pria berjas rapi. Jas abu-abu tua, dasi sutra, dan rambut yang tersisir sempurna. Di tangannya ia memegang sebuah map cokelat tebal. Pria itu menegakkan tubuh begitu melihat Reyhan masuk. Matanya—tajam dan penuh perhitungan—mengamati Reyhan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu ia tersenyum, bukan senyum basa-basi, tapi senyum yang penuh keyakinan. “Reyhan,” kata ayahnya dengan suara yang sedikit bergetar, “ini Pak Jhonatan Barnett. Beliau… agen pemain sepak bola internasional.” Jhonatan Barnett berdiri, menjulurkan tangan. Gerakannya halus, profesional, seolah ia sudah melakukan ini ribuan kali. “Senang akhirnya bertemu langsung, Reyhan,” katanya dengan aksen Inggris yang kental. “Aku sudah mendengar banyak tentangmu.” Reyhan tidak segera menyambut uluran tangan itu. Ia berdiri diam, jantungnya berdegup kencang, tapi wajahnya tetap tenang. Agen terkenal yang pernah membawa pemain-pemain Brasil ke Eropa itu ada di ruang tamunya. Di rumah kecilnya. Dan ia menatap Reyhan seperti melihat sesuatu yang berharga. Reyhan akhirnya meraih tangan itu, menggenggamnya erat. “Ada apa ini, Pak?” tanyanya, sopan tapi tegas. Jhonatan Barnett tersenyum lebih lebar, dan matanya berkilat.
2Chapter 2▾
Reyhan melepaskan jabat tangan itu dan duduk di lantai dekat kaki ibunya, seperti biasa ia lakukan sejak kecil. Bukan karena tidak sopan, tapi karena kursi tamu hanya satu dan ia tidak ingin merepotkan siapa pun. Jhonatan Barnett mengamati gerakan itu dengan tatapan yang tajam. Ia melihat bagaimana pemuda ini memilih duduk di lantai tanp...
Reyhan melepaskan jabat tangan itu dan duduk di lantai dekat kaki ibunya, seperti biasa ia lakukan sejak kecil. Bukan karena tidak sopan, tapi karena kursi tamu hanya satu dan ia tidak ingin merepotkan siapa pun. Jhonatan Barnett mengamati gerakan itu dengan tatapan yang tajam. Ia melihat bagaimana pemuda ini memilih duduk di lantai tanpa ragu, tanpa malu. Ada kerendahan hati di sana, tapi juga ada harga diri yang tidak perlu diumbar dengan kata-kata. “Aku akan langsung ke intinya, Reyhan,” kata Barnett sambil membuka map cokelat di tangannya. “Aku sudah mengamati permainanmu selama tiga bulan terakhir. Setiap pertandingan di kompetisi junior, setiap latihan, bahkan pertandingan persahabatan yang tidak dihadiri banyak orang.” Reyhan merasakan ibunya menegang di sampingnya. Ayahnya diam, tapi jari-jarinya yang biasa memegang kunci inggris kini saling meremas. “Kau punya sesuatu yang langka,” lanjut Barnett. “Bukan hanya bakat. Banyak pemain berbakat di dunia ini. Tapi kau punya... naluri. Cara kau membaca permainan, cara kau bergerak tanpa bola, cara kau mengambil keputusan dalam sepersekian detik. Itu tidak bisa diajarkan.” Pria itu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari map. Foto-foto Reyhan saat bermain, grafik, dan data yang tidak sepenuhnya dipahami Reyhan. “Aku ingin menjadi agenmu, Reyhan. Aku ingin membawamu ke Eropa. Bukan untuk trial, bukan untuk sekadar latihan. Aku ingin kau bermain di klub terbaik di dunia.” Keheningan mengisi ruang tamu kecil itu. Lampu 15 watt di atas kepala mereka berdengung pelan. Dari dapur, suara air menetes di bak cuci piring terdengar jelas. Reyhan menunduk, menatap ubin lantai yang retak di beberapa tempat. Rumah ini, motor tua ayahnya, baju latihan yang sudah mulai longgar karena terlalu sering dicuci—semua itu adalah hidupnya. Dan sekarang seorang pria asing duduk di ruang tamunya dan menawarkan sesuatu yang hanya ia impikan di malam hari sebelum tidur. “Berapa lama?” tanya Reyhan akhirnya, suaranya pelan tapi jelas. Barnett mengangkat alis. “Untuk apa?” “Untuk sampai ke sana. Ke Eropa. Berapa lama lagi aku harus menunggu?” Agen itu tersenyum, kali ini lebih tulus. “Jika kau setuju hari ini, aku bisa memberangkatkanmu dalam dua bulan. Tapi kau harus siap secara mental, Reyhan. Hidup di sana tidak akan mudah. Kultur berbeda, bahasa berbeda, dan persaingan jauh lebih keras dari apa pun yang kau hadapi di sini.” Reyhan mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Barnett. Tidak ada keraguan di sana, hanya keyakinan yang sudah lama ia simpan di dalam dada. “Saya sudah siap, Pak. Saya sudah siap sejak pertama kali saya menendang bola.”
3Chapter 3▾
Pertanyaan Reyhan menggantung di udara ruang tamu yang sempit itu. Lampu 15 watt terus mendengung pelan, dan suara tetesan air dari dapur seolah mengiringi detik-detik penantian. Jhonatan Barnett menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Bukan kecewa, bukan juga terkejut. Lebih seperti seseorang yang baru saja m...
Pertanyaan Reyhan menggantung di udara ruang tamu yang sempit itu. Lampu 15 watt terus mendengung pelan, dan suara tetesan air dari dapur seolah mengiringi detik-detik penantian. Jhonatan Barnett menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Bukan kecewa, bukan juga terkejut. Lebih seperti seseorang yang baru saja mendengar pertanyaan yang justru membuatnya semakin yakin. “Itu pertanyaan yang bagus, Reyhan.” Barnett meletakkan map cokelat di pangkuannya dan duduk lebih santai di kursi tamu. “Tapi biar aku balik bertanya. Menurutmu, kenapa aku bisa duduk di sini sekarang?” Reyhan mengerjap. Ia tidak menyangka akan mendapat balasan berupa pertanyaan. “Aku tidak datang ke Bandung untuk jalan-jalan,” lanjut Barnett. “Aku sudah bicara dengan beberapa klub. Mereka sudah melihat rekaman pertandinganmu. Tapi yang paling penting, aku sudah bicara dengan pelatih tim junior Manchester United.” Kata-kata itu membuat jantung Reyhan berdetak lebih cepat. Manchester United. Klub yang ia ikuti sejak kecil, yang ia tonton pertandingannya di televisi tetangga karena keluarganya tidak punya langganan saluran olahraga. “Mereka tertarik,” kata Barnett, nada bicaranya tenang tapi penuh bobot. “Tapi mereka ingin melihatmu langsung. Bukan sekadar video atau data. Mereka ingin melihat bagaimana kau bereaksi saat berada di lapangan yang sama dengan pemain-pemain akademi mereka.” Ayah Reyhan yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Suaranya serak, seperti baru pertama kali bicara setelah lama menahan napas. “Tapi... dia masih sekolah. Kami tidak punya biaya untuk—” “Biaya tidak perlu dipikirkan,” potong Barnett dengan sopan. “Jika Reyhan setuju menjadi klienku, semua biaya perjalanan dan akomodasi akan ditanggung oleh agensi. Dan untuk sekolah, aku sudah menyiapkan opsi homeschooling atau sekolah internasional di sana. Sepak bola modern tidak bisa dipisahkan dari pendidikan.” Ibu Reyhan menggenggam tangan suaminya. Wajahnya pucat, tapi ada kilau di matanya—sesuatu antara harapan dan ketakutan. Reyhan menunduk lagi. Ubin lantai yang retak itu seperti peta kehidupannya selama ini. Jalan yang tidak rata, penuh celah, tapi tetap kokoh di tempatnya. “Jadi,” suara Reyhan terdengar lebih mantap kali ini, “ada klub yang sudah benar-benar mau merekrut saya, atau ini masih sebatas kemungkinan?” Barnett tersenyum tipis. Ia membuka map cokelatnya lagi dan mengeluarkan selembar kertas. Kertas itu berisi kop surat sebuah klub yang tidak asing bagi Reyhan—logo setan merah yang ikonik. “Ini surat undangan resmi untuk mengikuti trial selama dua minggu di akademi Manchester United,” kata Barnett perlahan. “Tanggalnya sudah tercetak di sana. Yang dibutuhkan hanyalah tanda tanganmu dan orang tuamu sebagai persetujuan.” Reyhan menatap kertas itu. Surat itu tampak begitu sederhana, tapi bobotnya terasa seperti seluruh dunia di atas selembar kertas. Ayahnya meraih kertas itu dengan tangan gemetar. Jari-jarinya yang kasar dan penuh kapalan karena bertahun-tahun memegang kunci inggris menyentuh logo Manchester United seolah itu adalah benda paling berharga yang pernah ia pegang.




