
Bayangan di Lorong Manggarai
Aku menarik napas dalam-dalam, udara bawah tanah terasa berat dan lembap. Debu beton bercampur bau logam berkarat memenuhi rongga hidungku.
Story context
World description
kehancuran dunia akibat virus yg terbawa oleh meteorit
Initial situation
dunia hancur karena sebuah virus yg membuat wabah zombie dan belum ada penawar nya dan para zombie bermutasi setahun sekali
Objective
bertahan hidup selagi membuat markas di sebuah stasiun MRT
Character introduction

Rian
Role: pemeran utama
Chapter samples
1Chapter 1▾
Aku menarik napas dalam-dalam, udara bawah tanah terasa berat dan lembap. Debu beton bercampur bau logam berkarat memenuhi rongga hidungku. Di sekelilingku, lorong stasiun MRT ini gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu senter kecil yang kugenggam erat. Stasiun Manggarai. Atau setidaknya, itulah yang tertulis di papan petunjuk yang suda...
Aku menarik napas dalam-dalam, udara bawah tanah terasa berat dan lembap. Debu beton bercampur bau logam berkarat memenuhi rongga hidungku. Di sekelilingku, lorong stasiun MRT ini gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu senter kecil yang kugenggam erat. Stasiun Manggarai. Atau setidaknya, itulah yang tertulis di papan petunjuk yang sudah setengah hancur. Dindingnya dipenuhi coretan-coretan liar—perintah untuk diam, peringatan tentang bahaya di luar, dan beberapa simbol aneh yang tidak bisa kuartikan. Setiap langkah yang kuambil menggema di antara ubin-ubin yang retak. Tiga minggu sudah sejak meteorit itu jatuh. Tiga minggu sejak virus menyebar lebih cepat dari api merambat di hutan kering. Aku ingat bagaimana semuanya berubah dalam hitungan jam. Awalnya hanya laporan-laporan aneh tentang orang yang tiba-tiba agresif. Lalu gelombang. Dan kemudian… kehancuran. Aku masih menyandang pangkat astronot di badan antariksa nasional saat bencana itu melanda. Misi Marsku terhenti di menit-menit terakhir persiapan. Sekarang seragam biruku hanya menjadi kain lusuh yang menutupi tubuh kurus ini. Tapi setidaknya aku masih hidup. Dan itu lebih dari yang bisa dikatakan untuk kebanyakan orang. Sebuah suara gemerisik membuatku menegang. Aku membeku, mematikan senter, dan merapat ke dinding. Mataku terbiasa dengan gelap. Di ujung lorong, di dekat pintu keluar yang tertutup besi berkarat, terlihat bayangan bergerak-gerak. Gerakannya patah-patah, tidak wajar. Salah satu dari mereka. Aku menahan napas, tangan meraba pinggangku mencari pistol yang kuselipkan di sana. Hanya tersisa lima peluru. Aku harus berhemat. Bukannya aku tidak bisa bertarung—tubuhku dilatih untuk kondisi ekstrem di luar angkasa, dan ini tidak berbeda. Hanya saja lawannya berbeda. Lebih cepat. Lebih brutal. Bayangan itu berhenti. Sepertinya ia mendengar sesuatu. Atau mencium sesuatu. Perlahan, aku merunduk, merayap ke arah lorong samping yang menuju ke ruang teknisi. Di sana ada peta stasiun yang masih utuh. Jika aku bisa mencapai jalur kereta mati di sebelah timur, mungkin aku bisa menemukan tempat yang lebih aman. Atau setidaknya tempat yang lebih mudah dipertahankan. Tapi untuk itu, aku harus melewati bayangan itu. Dan di balik pintu besi di belakangku, terdengar suara benturan. Bukan satu. Banyak. Mereka mulai datang.
2Chapter 2▾
Aku tidak punya waktu untuk berpikir. Dentuman keras mengguncang dinding stasiun, dan aku mendengar retakan baru merambat di langit-langit di atas kepalaku. Serpihan beton berjatuhan, berdebam di lantai di sekitarku. Seluruh lorong bergetar seolah hendak runtuh. Bayangan di ujung lorong mulai bergerak cepat ke arahku. Refleksku bekerja ...
Aku tidak punya waktu untuk berpikir. Dentuman keras mengguncang dinding stasiun, dan aku mendengar retakan baru merambat di langit-langit di atas kepalaku. Serpihan beton berjatuhan, berdebam di lantai di sekitarku. Seluruh lorong bergetar seolah hendak runtuh. Bayangan di ujung lorong mulai bergerak cepat ke arahku. Refleksku bekerja lebih dulu dari pikiranku. Aku melompat maju, pistol teracung, dan dua kali menarik pelatuk. Letupan kering memecah kegelapan. Peluru pertama mengenai dahi bayangan itu, peluru kedua tepat di pelipisnya. Tubuhnya limbung dan jatuh dengan bunyi gedebuk berat sebelum sempat mengeluarkan suara. Aku menghela napas, tapi tidak lama. Dari lorong gelap di depanku, terdengar suara. Suara manusia. "Hei... kau di sana? Tolong... aku terluka." Aku membeku. Suara itu terdengar jelas, terlalu jelas. Aku sudah cukup sering bertemu dengan peniru—zombie yang bisa menirukan suara manusia untuk memancing korbannya. Biasanya suara mereka patah-patah, seperti rekaman rusak yang diputar ulang. Tapi suara ini... lancar. Alami. Tidak ada celah di antara kata-katanya. "Keluarlah," kataku, suaraku bergema di lorong kosong. "Tunjukkan dirimu. Perlahan." Beberapa detik berlalu. Lalu langkah kaki terdengar. Sebuah sosok muncul dari balik pilar beton yang retak. Tinggi, berotot, dengan jaket hitam yang penuh debu. Wajahnya kotor, tapi matanya masih tajam dan sadar. Zaki. Dia menatapku, lalu ke mayat zombie di lantai, lalu kembali padaku. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kau masih hidup, astronot." Aku menurunkan pistolku, perasaan lega bercampur waspada mengalir di dadaku. "Kau sendirian?" Zaki menggeleng. "Ada beberapa yang selamat di gerbang timur. Tapi mereka butuh pemimpin. Dan kau tahu siapa yang kucari." Dia melangkah mendekat, melewati genangan air kotor di lantai. Tepat saat dia berdiri di sampingku, getaran lain mengguncang stasiun. Lebih keras dari sebelumnya. Dari arah langit-langit, retakan baru merambat seperti ular, dan debu beton berhamburan ke bawah. Zaki mendongak, rahangnya mengeras. "Tempat ini tidak akan bertahan lama. Kita harus bergerak sekarang."
3Chapter 3▾
Aku menyambar lengan Zaki dan menariknya ke balik pilar beton. Bahuku menekan keras ke permukaan dingin yang berdebu, dan aku mengarahkan moncong pistol ke lorong gelap di hadapanku. Getaran masih terasa di bawah kakiku, tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah suara yang mengikuti—sebuah ledakan keras dari arah barat. Lampu darurat di lor...
Aku menyambar lengan Zaki dan menariknya ke balik pilar beton. Bahuku menekan keras ke permukaan dingin yang berdebu, dan aku mengarahkan moncong pistol ke lorong gelap di hadapanku. Getaran masih terasa di bawah kakiku, tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah suara yang mengikuti—sebuah ledakan keras dari arah barat. Lampu darurat di lorong mulai padam satu per satu. Pertama yang paling ujung, lalu merambat ke arah kami seperti gelombang kegelapan yang menelan segalanya. Saat lampu terakhir mati, kami tenggelam dalam kegelapan total. "Ledakan itu terlalu teratur untuk sekadar runtuhan," gumam Zaki di sampingku. Suaranya rendah, hampir berbisik. Aku mengangguk meski dia tidak bisa melihatku. "Bom. Pasti para bandit." Zaki menggerutu pelan. "Mereka semakin berani." Aku menarik napas dalam-dalam, memikirkan pilihan yang ada. Stasiun ini hancur, tapi masih lebih baik daripada berada di permukaan tanpa perlindungan. "Kita harus membuat markas di sini," kataku tegas. "Aku sudah menjelajahi stasiun ini cukup lama. Hanya tempat ini yang masih aman." "Aman?" Zaki mendengus. "Tempat ini runtuh di atas kepala kita." "Tidak seluruhnya. Ada ruang teknisi di lantai bawah yang strukturnya masih utuh. Betonnya diperkuat, dan hanya satu akses masuk. Kita bisa bertahan di sana." Zaki terdiam beberapa saat. Aku bisa mendengar napasnya yang berat di kegelapan. "Kau yakin?" "Ya." Dia menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi kita—" Suara langkah kaki memotong ucapannya. Dari arah yang sama Zaki muncul sebelumnya, sesosok bayangan meluncur cepat. Aku langsung mengarahkan pistolku, tapi Zaki menahan lenganku. "Tunggu." Bayangan itu berhenti beberapa meter dari kami. Napasnya tersengal-sengal, dan saat dia melangkah mendekat, aku bisa melihat rambut panjang yang kusut dan jaket kulit yang robek di beberapa tempat. Saskia. Dia menatapku, lalu Zaki, lalu kembali padaku. Matanya melebar saat melihat lorong yang gelap gulita di belakang kami. "Kau juga mendengar ledakan itu?" tanyanya, suaranya parau. Aku mengangguk. "Kita semua harus ke tempat aman. Aku tahu tempatnya." Saskia melirik Zaki, dan Zaki mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, dia berjalan mendekat, bergabung di sisi kami. Dari jauh, suara para bandit mulai terdengar. Teriakan dan tawa kasar bergema di lorong-lorong stasiun.




