Malam Pengkhianat
Public Story

Malam Pengkhianat

Kamar tidur kerajaan itu terasa begitu sunyi, hanya ditemani oleh nyala lilin yang berkedip-kedip di atas meja rias perak. Kamu duduk di depan cermin besar berbingkai emas, jari-jarimu menyentuh kalung mutiara yang melingkar di lehermu—hadiah dari Raja pada ulang tahun pernikahan kalian yang kelima.

queen alya230
Authorqueen alya230
Created10. July 2026
Chapters22

Story context

Initial situation

The story is "Espionage" themed. The name of the start setting starts with a "X".

Chapter samples

1
Chapter 1
Tap to expand and read the excerpt

Kamar tidur kerajaan itu terasa begitu sunyi, hanya ditemani oleh nyala lilin yang berkedip-kedip di atas meja rias perak. Kamu duduk di depan cermin besar berbingkai emas, jari-jarimu menyentuh kalung mutiara yang melingkar di lehermu—hadiah dari Raja pada ulang tahun pernikahan kalian yang kelima. Kilau mutiara itu terlihat sempurna, ha...

Kamar tidur kerajaan itu terasa begitu sunyi, hanya ditemani oleh nyala lilin yang berkedip-kedip di atas meja rias perak. Kamu duduk di depan cermin besar berbingkai emas, jari-jarimu menyentuh kalung mutiara yang melingkar di lehermu—hadiah dari Raja pada ulang tahun pernikahan kalian yang kelima. Kilau mutiara itu terlihat sempurna, hampir terlalu sempurna untuk seorang permaisuri yang hidupnya dipenuhi sandiwara. Di luar jendela, angin malam berbisik lembut melewati taman Xylos, taman kerajaan yang terkenal dengan labirin mawarnya yang harum. Tapi malam ini, taman itu bukan tempat untuk bermimpi. Dari balik tirai beludru merah, matamu menangkap gerakan samar di antara semak-semak—seorang pria bertubuh tegap dengan jubah hitam yang menyatu dengan bayangan. Dia adalah Xenon, mata-matamu yang paling setia. Dan kedatangannya hanya berarti satu hal: ada berita yang tidak bisa menunggu hingga pagi. Kamu berdiri perlahan, gaun sutra biru malam mengalir mengikuti gerakanmu. Tanpa menoleh, kamu berjalan ke arah balkon, membuka pintu kaca dengan hati-hati. Udara malam yang sejuk menyapu wajahmu, membawa aroma tanah basah dan mawar liar. Xenon sudah menunggu di bawah bayangan pohon zaitun. Dia tidak naik ke balkon—itu terlalu berisiko. Sebagai gantinya, dia melemparkan sebuah gulungan kecil yang terbungkus kain hitam. Kamu menangkapnya dengan gerakan terlatih, tanpa suara. “Ada apa?” bisikmu, suaramu hampir tidak terdengar di antara desiran angin. “Utusan dari utara, Yang Mulia,” jawabnya, suaranya serak dan hati-hati. “Mereka tahu tentang pertemuan rahasia di Xandria. Seseorang di istana ini telah berbicara.” Jantungmu berdetak lebih cepat, tapi wajahmu tetap tenang. Kamu menggenggam gulungan itu erat-erat, merasakan panasnya informasi yang baru saja tiba di telapak tanganmu. Seorang pengkhianat di antara para pelayan, bangsawan, atau bahkan mungkin lebih dekat dari itu. “Kembalilah ke bayangan,” katamu akhirnya. “Aku akan mencari tahu sendiri.” Xenon mengangguk, lalu lenyap begitu saja, kembali menjadi bagian dari malam yang gelap. Kamu menutup pintu balkon, kembali ke dalam kamar yang terasa tiba-tiba lebih dingin. Gulungan di tanganmu terasa berat, seolah-olah berisi seluruh masa depan kerajaan yang rapuh ini.

2
Chapter 2
Tap to expand and read the excerpt

Kamu baru saja menggenggam erat gulungan kain hitam itu ketika suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong luar. Langkah yang terlalu akrab—langkah Raja. Jantungmu melompat ke tenggorokan. Dengan gerakan cepat dan hampir panik, kamu menyembunyikan gulungan berita itu di balik lipatan gaun, tepat di pinggangmu, sebelum pintu kamar...

Kamu baru saja menggenggam erat gulungan kain hitam itu ketika suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong luar. Langkah yang terlalu akrab—langkah Raja. Jantungmu melompat ke tenggorokan. Dengan gerakan cepat dan hampir panik, kamu menyembunyikan gulungan berita itu di balik lipatan gaun, tepat di pinggangmu, sebelum pintu kamar terbuka. Raja melangkah masuk dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya. Jubah kerajaannya masih terpakai, tapi tidak rapi—seolah dia baru saja melepasnya dari ruang sidang dan langsung berjalan ke sini tanpa istirahat. Rambutnya sedikit berantakan, dan bahunya yang biasanya tegap kini tampak turun karena kelelahan. “Kau masih bangun?” suaranya serak, hampir berbisik. Dia menutup pintu di belakangnya dan bersandar sejenak, menghela napas panjang. Kamu berdiri di dekat meja rias, berusaha menjaga ekspresi tetap tenang meskipun dadamu berdebar kencang. “Aku tidak bisa tidur. Pikiranku terlalu sibuk.” Raja mengangguk, seolah mengerti. Dia berjalan mendekat, dan kamu bisa melihat kerutan di dahinya—tanda bahwa hari-hari ini berat baginya. Mungkin lebih berat dari yang dia tunjukkan di depan para bangsawan. “Ada banyak hal yang harus dibahas besok,” katanya, menggosok pelipisnya. “Dewan penasihat... mereka mulai tidak sabar. Ada desas-desus yang tidak bisa kukendalikan lagi.” Kamu hanya diam, merasakan beratnya gulungan di pinggangmu. Informasi dari Xenon membara di sana, menuntut untuk dibuka dan dibaca. Tapi tidak sekarang. Tidak dengan Raja yang berdiri tepat di depanmu, lelah dan rentan. Dia meraih tanganmu, jari-jarinya dingin. “Kau baik-baik saja?” tanyanya, menatap matamu dengan sorot yang penuh perhatian. Kamu tersenyum tipis, senyum yang kamu latih selama bertahun-tahun—senyum permaisuri yang sempurna. “Aku hanya lelah, seperti dirimu.” Raja mengangguk, lalu melepaskan tanganmu dan berjalan menuju tempat tidur. Dia duduk di tepi ranjang, bahunya turun saat dia membiarkan dirinya lelah untuk pertama kalinya malam ini. Sementara itu, gulungan di pinggangmu terasa semakin panas, berbisik tentang rahasia yang harus menunggu.

3
Chapter 3
Tap to expand and read the excerpt

Kamu menarik napas dalam-dalam, menekan rasa frustrasi yang menggeliat di dadamu. Informasi dari Xenon masih tersembunyi di pinggangmu, tapi sekarang bukan waktunya. Raja duduk di tepi ranjang dengan bahu yang turun, dan untuk sesaat, dia bukanlah penguasa kerajaan—hanya seorang pria yang kelelahan. Kamu berjalan mendekat, duduk di sampi...

Kamu menarik napas dalam-dalam, menekan rasa frustrasi yang menggeliat di dadamu. Informasi dari Xenon masih tersembunyi di pinggangmu, tapi sekarang bukan waktunya. Raja duduk di tepi ranjang dengan bahu yang turun, dan untuk sesaat, dia bukanlah penguasa kerajaan—hanya seorang pria yang kelelahan. Kamu berjalan mendekat, duduk di sampingnya. Tanpa berkata apa-apa, tanganmu meraih bahunya dan mulai memijat perlahan. Otot-ototnya terasa kaku di bawah jubah tipisnya, dan dia menghela napas panjang saat tekanan jari-jarimu mulai bekerja. “Kau terlalu keras pada dirimu sendiri,” gumammu, suaramu lembut meskipun pikiranku berputar ke arah lain. Raja mendesah, menikmati sentuhanmu. Tapi kemudian dia berbicara lagi, dan kata-katanya membuatmu menegang. “Besok aku harus menemui selir-selir,” katanya, suaranya datar. “Mereka mengeluh tentang kurangnya perhatian. Dewan mendesak aku untuk menunjukkan keseimbangan.” Kamu berhenti memijat. Rasa kesal menyengat di dadamu. Selir. Lagi-lagi selir. Meskipun dia bersikap dingin pada mereka, meskipun dia tidak pernah bermalam di kamar mereka, topik ini selalu muncul di saat yang paling tidak tepat. “Terserah padamu,” jawabmu singkat, suaramu terkontrol. Raja menoleh, menatapmu dengan alis berkerut. “Kau marah?” “Aku lelah.” Kamu menarik tanganmu dan berdiri. “Sudah larut. Kita perlu tidur.” Tanpa menunggu jawabannya, kamu berjalan ke sisi lain tempat tidur dan berbaring, membelakanginya. Kamu merasakan matanya menatap punggungmu, menunggu, mungkin berharap kamu akan berbalik. “Perempuan,” panggilnya pelan. “Kau tahu aku tidak pernah...” “Aku tahu,” potongmu, suaramu teredam di bantal. “Tapi aku juga tahu kau tidak akan berhenti membicarakannya. Jadi tidurlah.” Diam. Kamu mendengar helaan napasnya yang panjang, lalu derit ranjang saat dia merebahkan diri. Beberapa saat kemudian, kamu merasakan tangannya meraih pinggangmu, mencoba menarikmu mendekat. Kamu tetap diam, tidak bergerak. Tangannya bertahan sebentar, lalu perlahan ditarik kembali. Kamu mendengar desahan kecil di belakangmu, dan kemudian keheningan kembali menguasai ruangan. Gulungan di pinggangmu masih terasa berat, mengingatkanmu pada tugas yang belum selesai. Tapi malam ini, setidaknya untuk beberapa jam, kamu membiarkan dirimu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Read more
Go to Top