Aethelgard
Public Story

Aethelgard

Matahari merayap naik di ufuk timur Solaria, melemparkan cahaya keemasan yang membakar debu-debu gersang di Desa Solis-Marginis. Terletak tepat di pinggiran terluar wilayah kekuasaan Maharaja Surya, desa kecil berbalut dinding batu merah ini biasanya hanya mengenal kedamaian yang sunyi.

JadedLegacy155
AuthorJadedLegacy155
Created8. June 2026
Chapters14

Story context

World description

Aethelgard adalah planet bulat raksasa yang melayang di ruang kosmik tak berdasar, terbagi menjadi sembilan wilayah absolut yang masing-masing dikuasai oleh Maharaja elemen. Kerajaan Solaria, tempat Ateras tinggal, adalah wilayah kekuasaan Maharaja Surya, Dewa Fajar Abadi, yang menguasai energi panas murni dan radiasi bintang. Istananya berada di puncak Gunung Ignis yang menyala selamanya, dan di bawahnya terbentang desa-desa ...

Initial situation

Di sebuah desa di kaki Gunung Ignis, malam itu langit terbelah oleh raungan monster dari Dunia Lain. Di tengah kepanikan, Esuna, seorang janda yang sedang mengandung, berjuang melahirkan di dalam rumah kayu yang goyah. Di luar, Jendral Rova bertarung sendirian melawan gerombolan bayangan, pedangnya bercahaya merah membara, melindungi desa dari kehancuran total. Saat tangis bayi Ateras pertama kali terdengar, tato matahari di l...

Objective

Ateras harus bertahan hidup hingga ritual Pemberian Berkah, membuktikan dirinya layak menjadi wadah Dewa Surya, dan menghadapi ancaman monster dari Dunia Lain serta intrik politik di antara sembilan kerajaan.

Chapter samples

1
Chapter 1
Tap to expand and read the excerpt

Matahari merayap naik di ufuk timur Solaria, melemparkan cahaya keemasan yang membakar debu-debu gersang di Desa Solis-Marginis. Terletak tepat di pinggiran terluar wilayah kekuasaan Maharaja Surya, desa kecil berbalut dinding batu merah ini biasanya hanya mengenal kedamaian yang sunyi. Penduduknya hidup sederhana di bawah bayang-bayan...

Matahari merayap naik di ufuk timur Solaria, melemparkan cahaya keemasan yang membakar debu-debu gersang di Desa Solis-Marginis. Terletak tepat di pinggiran terluar wilayah kekuasaan Maharaja Surya, desa kecil berbalut dinding batu merah ini biasanya hanya mengenal kedamaian yang sunyi. Penduduknya hidup sederhana di bawah bayang-bayang pegunungan batu, memuja sang fajar abadi yang memberi mereka kehangatan konstan. Namun, pada pagi yang naas ini, kehangatan itu mendadak terenggut oleh hawa dingin yang tidak wajar. Di sebuah gubuk kecil di sudut desa, jeritan kesakitan seorang ibu berbaur dengan kepanikan yang tiba-tiba meledak di luar ruangan. Langit di atas batas desa bergetar parah, meretas seperti kaca yang dipukul palu godam. Sebuah Celah Kekosongan berukuran sedang terbuka, menumpahkan zat cair hitam pekat yang merayap di atas tanah fana. Dari dalam distorsi dimensi tersebut, sepasukan Abominasi Void merangkak keluar. Wujud mereka mengerikan—tanpa wajah, dipenuhi kristal obsidian tajam yang berdenyut ungu gelap, bergerak merayap dengan suara mendesis yang mematikan eksistensi udara di sekitarnya. Ke mana pun monster itu melangkah, warna tanah berganti kelabu mati. Kepanikan masal pecah dalam sekejap. Penduduk desa berlarian tanpa arah, menjerit histeris ketika bayangan monster mulai menyentuh lumbung-lumbung gandum mereka. Beruntung, beberapa anggota Resimen Pembasmi Monster sedang singgah di kedai desa setelah menyelesaikan patroli Jalur Tulang Besi. Melihat bencana yang muncul di depan mata, para petualang itu langsung menghunus senjata mereka, membentuk formasi tempur demi menahan gelombang ketiadaan. Seorang ksatria garis depan dari elemen Terrania mengentakkan perisai besarnya ke tanah, membangkitkan dinding-dinding batu merah demi menahan terjangan kristal hitam. Di belakangnya, seorang striker berdarah Fulgeria melepaskan sambaran kilat kuning pucat dari ujung tombaknya, mencoba menghanguskan monster-monster itu. Namun, keputusasaan segera melanda. Abominasi Void yang menyerang kali ini terlalu padat dan kuat. Kilat elemental sang striker terserap ke dalam tubuh bayangan mereka seolah-olah serangan itu tidak pernah ada. Dinding batu Terrania retak dengan cepat, membusuk menjadi debu kelabu begitu disentuh oleh tentakel kegelapan. Para petualang terdesak hebat, terluka parah, dan menyadari bahwa ajal mereka sudah di ambang pintu. Monster-monster itu terlalu kuat untuk dihadapi oleh kasta petualang tingkat rendah. Di tengah keputusasaan yang mencekam, di dalam gubuk yang mulai bergoyang akibat guncangan pertempuran, tangisan pertama seorang bayi perempuan akhirnya pecah. Suaranya melengking tinggi, membelah gemuruh teror di luar sana. Seorang anak perempuan telah lahir ke dunia. Sang ibu, dengan napas tersengal dan tubuh yang lemah, memeluk bayinya dengan protektif di atas ranjang jerami. Pada saat kain pembungkus bayi itu tersingkap, sebuah pemandangan mistis Kronik Aethelgard 6 terlihat di kulit rapuhnya yang masih kemerahan. Garis-garis hitam legam terbentuk dengan presisi sempurna, membentuk pola lingkaran berduri yang rumit di sepanjang lengan kanannya. Itu adalah Tato Monokrom. Kosong, tanpa warna, tanpa aura—sebuah tanda lahir absolut yang mengumumkan kepada semesta bahwa sang bayi adalah seorang Human Container, wadah yang telah ditakdirkan oleh benang nasib sejak detik pertama ia menghirup udara bumi. Tepat ketika Abominasi Void berhasil menghancurkan pertahanan terakhir para petualang dan bersiap meruntuhkan dinding-dinding gubuk desa, sebuah suara terompet emas bergema dari kejauhan, membelah cakrawala. Suara itu membawa getaran gelombang panas yang luar biasa pekat. Bantuan dari pusat kerajaan telah tiba. Pasukan elit Solaria—yang dikenal sebagai Ksatria Solaris yang di pimpin oleh rova

2
Chapter 2
Tap to expand and read the excerpt

Pasukan Ksatria Solaris bergerak dalam formasi yang rapi meskipun medan pertempuran telah berubah menjadi lautan kekacauan. General Rova memimpin dari depan, pedangnya menyala merah membelah udara panas, setiap tebasannya meninggalkan jejak api yang membakar jejak kaki Abominasi Void. Di belakangnya, dua baris ksatria berjubah emas mengik...

Pasukan Ksatria Solaris bergerak dalam formasi yang rapi meskipun medan pertempuran telah berubah menjadi lautan kekacauan. General Rova memimpin dari depan, pedangnya menyala merah membelah udara panas, setiap tebasannya meninggalkan jejak api yang membakar jejak kaki Abominasi Void. Di belakangnya, dua baris ksatria berjubah emas mengikuti irama langkahnya, perisai mereka menyatu membentuk tembok cahaya yang memantulkan sinar matahari pagi. Namun, di sudut lain desa, pertahanan sudah mulai runtuh. Seorang ksatria dari elemen Terrania, tubuhnya berlumuran debu dan keringat, mengentakkan perisai besinya ke tanah dengan seluruh sisa tenaga. Dentuman berat mengguncang bumi. Retakan-retakan merah membelah permukaan tanah, dan dari celah-celah itu, dinding-dinding batu menjulang dengan suara gemuruh yang dalam. Formasi pertahanan darurat—tembok terakhir yang memisahkan monster dari gubuk-gubuk di belakangnya. Di belakangnya, seorang striker berdarah Fulgeria melompat ke atas salah satu dinding batu. Ujung tombaknya menyala kuning pucat, listrik berderak di sepanjang bilah logam. Ia mengayunkan senjatanya ke depan, melepaskan sambaran kilat yang melesat lurus ke arah barisan Abominasi Void. Cahaya menyilaukan memenuhi udara sejenak. Tapi monster-monster itu tidak berhenti. Kilat elemental yang seharusnya mampu menghanguskan daging dan tulang malah terserap ke dalam tubuh kristal obsidian mereka, lenyap seperti air yang jatuh ke pasir kering. Tidak ada jeritan kesakitan. Tidak ada tubuh yang roboh. Abominasi Void terus merangkak maju, tanpa wajah, tanpa ekspresi, seolah serangan itu tidak lebih dari hembusan angin. Dinding batu yang baru saja dibangun mulai retak. Tentakel-tentakel kegelapan menyentuh permukaan batu merah, dan dalam hitungan detik, struktur kokoh itu membusuk menjadi debu kelabu yang beterbangan tertiup angin panas. Sang ksatria Terrania mundur selangkah, lalu dua langkah, napasnya memburu. Ia tahu—mereka semua tahu—bahwa monster-monster ini berada di luar kemampuan mereka. Para petualang tingkat rendah itu mulai jatuh, satu per satu. Yang terluka parah diseret ke belakang oleh rekan-rekan mereka, sementara yang lain mencoba bertahan dengan gigi terkatup. Keputusasaan menyebar lebih cepat daripada api. Mereka sudah bisa merasakan dinginnya kematian merayap di punggung. Dan di saat itulah, dari dalam gubuk yang dindingnya mulai berderit menahan guncangan, suara pertama seorang bayi memecah kekacauan. Tangisan itu melengking tinggi, murni, dan anehnya—di tengah hiruk-pikuk pertempuran—suara itu terdengar jelas. Seperti bel pecah kaca yang memotong gemuruh kegelapan. Seperti nyala api pertama yang lahir di tengah malam paling gelap. Rova menghentikan langkahnya. Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Pedangnya masih menyala merah, darah monster masih menetes dari ujung bilahnya, tapi matanya—mata kasar prajurit yang telah menyaksikan terlalu banyak kematian—tertuju pada gubuk kayu di ujung jalan. Ia mendengar tangisan itu. Dan di lubuk hatinya yang paling dalam, sesuatu yang telah lama mati mulai bergetar. Dari dalam gubuk, cahaya jingga redup menyelinap melalui celah-celah dinding. Samar. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat udara di sekitarnya terasa lebih hangat. Para Abominasi Void, untuk pertama kalinya, berhenti.

3
Chapter 3
Tap to expand and read the excerpt

Di dalam gubuk kayu yang dindingnya mulai berderit menahan guncangan, Esuna terbaring di atas ranjang jerami dengan tubuh yang terasa hancur. Keringat bercampur darah membasahi kain di bawahnya, dan setiap tarikan napas terasa seperti mengangkat beban yang amat berat. Namun di pelukannya, ada kehangatan yang baru saja lahir—sebuah kehidup...

Di dalam gubuk kayu yang dindingnya mulai berderit menahan guncangan, Esuna terbaring di atas ranjang jerami dengan tubuh yang terasa hancur. Keringat bercampur darah membasahi kain di bawahnya, dan setiap tarikan napas terasa seperti mengangkat beban yang amat berat. Namun di pelukannya, ada kehangatan yang baru saja lahir—sebuah kehidupan kecil yang berharga lebih dari segalanya. Tangisan pertama Ateras melengking tinggi, memotong gemuruh pertempuran di luar. Suara itu murni, tanpa cela, seolah menantang kegelapan yang mencoba merobek desa mereka. Esuna menunduk, menatap wajah mungil yang masih berkerut itu dengan mata yang basah. Rambut tipis berwarna merah bara gelap menempel di dahi bayinya, dan matanya—dua bola biru gelap yang dalam—terbuka lebar, menatap dunia dengan keheningan yang aneh. Dengan tangan yang gemetar, Esuna merapikan kain pembungkus yang membalut tubuh mungil putrinya. Dan di saat itulah, saat kain itu tersingkap sedikit dari lengan kanan Ateras, napas Esuna terhenti. Garis-garis hitam legam terukir di kulit bayi yang masih kemerahan itu. Bukan goresan sembarangan, melainkan pola yang terbentuk dengan presisi sempurna—lingkaran berduri yang rumit, melingkar di sepanjang lengan kanan dari bahu hingga hampir ke pergelangan tangan. Setiap duri tajam tergambar dengan detail yang menakutkan, seolah dilukis oleh tangan tak kasat mata dari alam lain. Tato itu kosong. Hitam pekat tanpa warna, tanpa aura, tanpa cahaya. Sebuah tanda lahir absolut yang tidak bisa dihapus. Tato Monokrom. Esuna menggigit bibirnya, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Ia tahu apa artinya. Setiap anak di Kerajaan Solaria tumbuh dengan mendengar legenda tentang Human Container—manusia-manusia yang lahir dengan tanda ini, ditakdirkan menjadi wadah bagi kekuatan para Maharaja. Dan kini, di pelukannya sendiri, putrinya membawa tanda yang sama. "Kau... kau terlahir dengan takdir yang berat, anakku," bisiknya dengan suara serak, jari-jarinya dengan lembut menyentuh tato itu. Kulit di bawah sentuhannya terasa hangat, meskipun pola hitam itu sendiri dingin dan diam. Di luar, tangisan Ateras seolah telah mengubah sesuatu di udara. Para Abominasi Void yang sedari tadi bergerak tanpa henti kini berhenti. Tubuh-tubuh kristal obsidian mereka membeku, seolah mendengarkan suara yang tidak bisa ditangkap telinga manusia. Rova, yang masih berdiri di tengah jalan dengan pedang menyala, merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menoleh ke arah gubuk Esuna, dan untuk pertama kalinya dalam pertempuran malam itu, ia melihat cahaya jingga redup merembes dari celah-celah dinding kayu. Cahaya itu tidak terang. Hampir seperti kilau kunang-kunang di malam yang kelam. Tapi cukup untuk membuat bayangan-bayangan di sekitarnya bergetar. Di dalam gubuk, Esuna menarik bayinya lebih erat ke dadanya, melindungi Ateras dari dunia yang baru saja menerimanya dengan kekacauan dan darah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ia tahu, putrinya telah lahir, dan ia akan melindunginya dengan nyawanya sendiri.

Read more
Go to Top