
Rumah di Antara Dimensi
Matahari pagi menyinari dedaunan lebat Hutan Ardoch, namun cahayanya nyaris tidak mampu menembus kanopi pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi. Di tempat yang seharusnya menjadi mimpi buruk bagi makhluk hidup mana pun, Lumina Lyodra berjalan dengan langkah santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jubah panjang berwarna abu-abu gelap.
Story context
World description
dunia penuh sihir dan penuh kedamaian. ada 12 kerajaan dan semua penduduk hidup damai dan makmur, hewan-hewan yang indah dapat ditemukan dimana saja, dan terdapat 2 guild yang ada di seluruh dunia untuk memantau pergerakan monster agar tidak masuk ke pemukiman yaitu Adventure Guild dan Hunter Guild, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu mencegah monster agar tidak masuk pemukiman. Adventure Guild bertugas untuk pergi ke beb...
Initial situation
Lumina Lyodra yang sedang berjalan santai untuk mencari hutan dengan latar belakang hutan terkutuk karena hutan itu dikenal sangat berbahaya dan tidak sembarang orang dapat memasuki hutan itu, hutan itu adalah hutan Ardoch. Lumina Lyodra sudah menemukan hutan itu dan berjalan santai hingga dia sudah di tengah hutan, Lumina membangun rumahnya yang sederhana dengan sihirnya untuk memudahkannya membangun rumah sederhana itu deng...
Objective
tujuan utamanya adalah membuat Lumina Lyodra yang telah hidup 89500 tahun dan 89000 tahun yang ia habiskan hanyalah bersantai dan hidup tenang dan sederhana untuk dapat hidup di desa atau kerajaan manusia tanpa ada masalah dan belajar tentang manusia. semua ini Lumina lakukan agar Lumina tidak terlalu bosan dan ada kegiatan sedikit di luar hutan Ardoch, barang kali Lumina sering mengubah penampilan fisiknya dengan sihir yang i...
Character introduction

Lumina Lyodra
Role: seseorang yang ingin hidup tanpa ada gangguan
Chapter samples
1Chapter 1▾
Matahari pagi menyinari dedaunan lebat Hutan Ardoch, namun cahayanya nyaris tidak mampu menembus kanopi pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi. Di tempat yang seharusnya menjadi mimpi buruk bagi makhluk hidup mana pun, Lumina Lyodra berjalan dengan langkah santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jubah panjang berwarna abu-abu ...
Matahari pagi menyinari dedaunan lebat Hutan Ardoch, namun cahayanya nyaris tidak mampu menembus kanopi pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi. Di tempat yang seharusnya menjadi mimpi buruk bagi makhluk hidup mana pun, Lumina Lyodra berjalan dengan langkah santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jubah panjang berwarna abu-abu gelap. Wajahnya datar, matanya setengah terpejam seperti seseorang yang baru saja bangun tidur dan belum benar-benar ingin melepaskan diri dari dekapan mimpi. Dia berhenti sejenak di tengah hutan, menatap sekeliling dengan tatapan kosong. Tanah di bawah kakinya dipenuhi akar-akar pohon yang bergerak perlahan seperti ular malas. Di kejauhan, lolongan monster terdengar, tapi Lumina hanya menguap kecil. "Di sini saja," gumamnya dengan suara hampir tidak terdengar. Dia mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya yang ramping bergerak ringan di udara. Tidak ada mantra yang diucapkan, tidak ada gerakan dramatis. Kayu-kayu dari pohon Ardoch—yang dikenal lebih keras dari besi padat—mulai terlepas dari batangnya, melayang di udara, lalu menyusun diri membentuk dinding, atap, dan lantai. Dalam hitungan detik, sebuah rumah sederhana berdiri kokoh di antara pepohonan raksasa. Lumina melangkah masuk, menutup pintu kayu di belakangnya. Di dalam, rumah itu kosong tanpa perabotan. Tapi itu tidak masalah. Dengan lambaian tangan lain, dia merobek celah dimensi di tengah ruangan—sebuah lubang kehampaan yang berkilauan seperti permukaan danau di malam berbintang. Di dalamnya, tempat tidur empuk dan bantal-bantal menanti. Dia meregangkan tubuhnya, lalu melangkah masuk ke celah itu. Dunia di luar lenyap berganti dengan keheningan absolut. Tidak ada suara monster, tidak ada desiran angin. Hanya kehangatan selimut dan janji tidur panjang tanpa gangguan. Selama delapan puluh sembilan ribu tahun lebih, ini adalah rutinitasnya. Bangun, berjalan-jalan sebentar, membangun atau memperbaiki sesuatu, lalu tidur lagi. Kadang berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun. Waktu tidak berarti apa-apa baginya. Tapi pagi ini, sesuatu terasa berbeda. Lumina membuka matanya di tengah tidurnya, menatap langit-langit dimensinya yang gelap. Kebosanan. Perasaan asing yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia berguling, menarik selimut hingga menutupi kepalanya, mencoba mengabaikannya. Namun kebosanan itu tetap bertahan, menggelitik pikirannya seperti lalat kecil yang mengganggu. Dengan desahan panjang, Lumina duduk di tepi tempat tidurnya, rambut perpaduan silver, ungu, dan biru tuanya tergerai kusut. Matanya masih setengah terpejam saat dia menatap celah dimensi yang terbuka, memperlihatkan ruang tamu rumahnya yang kosong. Mungkin sudah waktunya untuk sesuatu yang berbeda.
2Chapter 2▾
Lumina duduk diam di tepi tempat tidurnya, jemarinya meraih ujung selimut dan meremasnya perlahan. Matanya yang setengah terpejam menatap kosong ke arah celah dimensi yang terbuka, memperlihatkan ruang tamu sederhana di luar. Kebosanan itu masih menggelayuti pikirannya, tidak mau pergi. Sudah delapan puluh sembilan ribu tahun dia hidup s...
Lumina duduk diam di tepi tempat tidurnya, jemarinya meraih ujung selimut dan meremasnya perlahan. Matanya yang setengah terpejam menatap kosong ke arah celah dimensi yang terbuka, memperlihatkan ruang tamu sederhana di luar. Kebosanan itu masih menggelayuti pikirannya, tidak mau pergi. Sudah delapan puluh sembilan ribu tahun dia hidup seperti ini. Tidur, bangun, berjalan-jalan sebentar, lalu tidur lagi. Sebuah rutinitas yang dulu terasa sempurna, namun kini mulai terasa hambar. Dia menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri. Rambutnya yang kusut tergerai jatuh menutupi bahunya saat dia melangkah melewati celah dimensi, kembali ke ruang tamu rumah kayunya. Udara di dalam rumah terasa sejuk, aroma kayu Ardoch yang khas memenuhi ruangan. Lumina berjalan menuju pintu dan mendorongnya perlahan. Cahaya redup hutan menyambutnya, lolongan monster di kejauhan terdengar samar. Dia berdiri di ambang pintu, menatap pepohonan raksasa yang menjulang di sekelilingnya. Pikirannya melayang ke desa-desa manusia yang pernah dia lihat sekilas beberapa abad yang lalu. Atau kerajaan elf dengan arsitektur elegannya. Atau bahkan pemukiman para demon di dataran selatan. Semua tempat itu asing baginya, namun tiba-tiba terasa menarik. Dia menunduk, menatap tangannya sendiri. Jubah abu-abu gelap yang dikenakannya sudah terlalu lama tidak diganti. Mungkin perlu penampilan yang berbeda jika dia ingin berbaur. Lumina mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, rambutnya yang kusut tersisir rapi, wajahnya sedikit berubah—telinga runcingnya memendek, menjadi lebih mirip telinga manusia biasa. Warna rambutnya berubah menjadi perak polos tanpa campuran ungu dan biru. Dia masih terlihat cantik, tapi tidak lagi mencolok seperti sebelumnya. Dia menatap bayangannya di permukaan jendela kayu rumahnya. Cukup meyakinkan untuk seorang manusia biasa. Tanpa membuang waktu, Lumina melangkah keluar dari rumahnya, meninggalkan pintu terbuka. Tidak perlu dikunci. Tidak ada makhluk di hutan ini yang cukup bodoh untuk memasuki rumah seorang master wizard. Langkahnya tenang saat dia berjalan meninggalkan Hutan Ardoch, meninggalkan tempat yang telah menjadi rumahnya selama ribuan tahun. Di belakangnya, pepohonan raksasa bergoyang pelan, seolah mengucapkan selamat tinggal.
3Chapter 3▾
Lumina berjalan melewati batas hutan Ardoch tanpa menoleh ke belakang. Pepohonan raksasa mulai merenggang, memberi jalan pada semak-semak yang lebih rendah dan tanah berbatu. Cahaya matahari sore menyentuh wajahnya, hangat dan asing setelah ribuan tahun hanya diterpa cahaya redup yang menembus kanopi hutan. Dia mengerjapkan mata sebentar...
Lumina berjalan melewati batas hutan Ardoch tanpa menoleh ke belakang. Pepohonan raksasa mulai merenggang, memberi jalan pada semak-semak yang lebih rendah dan tanah berbatu. Cahaya matahari sore menyentuh wajahnya, hangat dan asing setelah ribuan tahun hanya diterpa cahaya redup yang menembus kanopi hutan. Dia mengerjapkan mata sebentar, membiarkan indranya menyesuaikan diri. Jalan setapak mulai muncul di depannya—bukan jalan alami, melainkan jejak yang sering dilalui. Bekas roda kereta, tapak kaki yang padat, dan beberapa helai rambut kuda tertinggal di semak-semak tepi. Lumina mengikuti jalan itu tanpa ragu. Setelah berjalan sekitar satu jam, suara-suara mulai terdengar samar di kejauhan. Percakapan, derit kayu, dan sesekali ringkikan kuda. Sebuah desa. Lumina memperlambat langkahnya saat rumah-rumah kayu mulai terlihat di antara pepohonan yang menipis. Desa itu tidak besar—mungkin sekitar tiga puluh rumah, beberapa lumbung, dan sebuah bangunan lebih besar di tengah yang tampak seperti balai pertemuan atau penginapan. Asap mengepul dari cerobong-cerobong, dan aroma masakan sederhana terbawa angin. Dia berhenti di tepi desa, berdiri di bawah naungan pohon besar yang menjulang di pinggir jalan masuk. Matanya mengamati sekeliling dengan tenang. Beberapa anak bermain di halaman depan rumah, mengejar satu sama lain sambil tertawa. Seorang wanita tua duduk di beranda, mengupas kentang dengan gerakan lambat dan terbiasa. Dua pria duduk di dekat sumur, berbincang sambil sesekali tertawa kasar. Tidak ada yang melihatnya. Lumina menghela napas pelan, lalu melangkah maju. Kakinya menyentuh tanah desa untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun. Seorang pria paruh baya yang sedang membawa kayu bakar berhenti saat melihatnya. Matanya menyipit sebentar, mengamati jubah abu-abu gelap dan rambut perak yang tergerai rapi. Lalu dia tersenyum ramah. "Selamat sore, Nona. Mencari sesuatu?" sapanya dengan suara berat namun bersahabat. Lumina menatapnya sesaat, wajahnya tetap datar. "Tempat menginap," jawabnya singkat. Pria itu mengangguk, lalu menunjuk ke bangunan besar di tengah desa dengan dagunya. "Penginapan satu-satunya di desa ini ada di sana. Punya Mila. Katakan kau dikirim oleh Gunter, dia akan memberikan harga khusus." Lumina mengangguk kecil. "Terima kasih." Dia berjalan melewati pria itu, melangkah menuju penginapan dengan langkah tenang. Di belakangnya, Gunter mengamati sejenak sebelum kembali mengangkat kayu bakarnya, bergumam pelan tentang pengunjung asing yang jarang datang ke desa kecil mereka.




