
Obsession
Cahaya kristal peri yang melayang-layang di langit-langit aula besar Kerajaan Mayland memantul lembut pada permata-permaisuri dinding marmer putih, menciptakan kilauan pelangi yang menari-nari seperti hembusan angin musim semi. Aroma bunga liar dari taman kerajaan menyusup melalui jendela-jendela tinggi, bercampur dengan wangi anggur manis dan rempah panggang yang menggoda hidung para bangsawan.
Story context
World description
Kerajaan Mayland adalah negeri yang cerah dan mempesona, dihuni oleh makhluk-makhluk ajaib seperti peri yang menjaga kawasan kerajaan, menciptakan atmosfer yang penuh keindahan alam dan sedikit fantasi. Di sisi lain, Kerajaan Wieldster adalah pusat kemajuan teknologi yang luar biasa, beroperasi dengan kekuatan artefak kuno Dewi Bulan sebagai intinya, menciptakan kontras antara keajaiban alam dan kecanggihan teknologi, serta me...
Initial situation
Di tengah kemegahan Kerajaan Mayland, Hans, seorang pemuda bangsawan berdarah campuran yang unik dengan rambut putih acak-acakan dan mata heterokromia yang memesona, menerima tatapan penuh penghakiman. Kabar tentang statusnya sebagai anak haram beredar, membuatnya merasa tak berdaya di antara para bangsawan lain. Tanpa ia sadari, kehadiran dan pesonanya yang tak biasa telah menarik perhatian Derek, putra mahkota Kerajaan Wield...
Objective
Mengungkap misteri hilangnya sahabat masa kecil Derek yang ternyata adalah Hans sendiri, sambil menavigasi hubungan romantis yang semakin dalam dan penuh gairah di antara mereka, yang diwarnai oleh ketegangan dari masa lalu, ancaman dari luar, dan perebutan kekuasaan di kerajaan.
Chapter samples
1Chapter 1▾
Cahaya kristal peri yang melayang-layang di langit-langit aula besar Kerajaan Mayland memantul lembut pada permata-permaisuri dinding marmer putih, menciptakan kilauan pelangi yang menari-nari seperti hembusan angin musim semi. Aroma bunga liar dari taman kerajaan menyusup melalui jendela-jendela tinggi, bercampur dengan wangi anggur mani...
Cahaya kristal peri yang melayang-layang di langit-langit aula besar Kerajaan Mayland memantul lembut pada permata-permaisuri dinding marmer putih, menciptakan kilauan pelangi yang menari-nari seperti hembusan angin musim semi. Aroma bunga liar dari taman kerajaan menyusup melalui jendela-jendela tinggi, bercampur dengan wangi anggur manis dan rempah panggang yang menggoda hidung para bangsawan. Suara gelak tawa ringan dan denting gelas kristal memenuhi udara, tapi bagi Hans, semuanya terasa seperti kabut yang menyesakkan. Ia berdiri di pinggir kerumunan, postur rampingnya yang seksi namun gagah dibalut jubah sutra hitam sederhana yang kontras dengan kemewahan para hadirin. Rambut putih panjangnya yang subur, dihiasi aksen hitam halus, tergerai acak-acakan menutupi bahu, sementara mata heterokromianya—satu biru es, satu hijau zamrud—menangkap pantulan cahaya peri, membuatnya tampak seperti makhluk dari dongeng yang tersesat. Tatapan para bangsawan menyusup ke arahnya, bisikan-bisikan tajam seperti duri: "Anak haram itu lagi... darah campuran Mayland-Wieldster, tak pantas di sini." Hans menunduk, jari-jarinya yang panjang dan lentur menggenggam gelas anggur merah dengan erat, pasrah pada beban yang sudah terlalu akrab. Napasnya pelan, dada naik-turun ritmis, mencoba menahan getar hati yang lelah. Tiba-tiba, kerumunan bergeser saat seorang pria tinggi mendekat, memecah lautan gaun dan mantel berhias emas. Derek, putra mahkota Kerajaan Wieldster, melangkah dengan percaya diri yang tak tergoyahkan. Rambut merah gelapnya yang ikal tertata rapi, membingkai wajah tampan berstruktur tajam, dengan senyum hangat yang menyembunyikan dinginnya sorot mata kuning kebiruan—warna kerajaan asli, simbol artefak Dewi Bulan yang memberi kekuatan pada negerinya. Jubahnya yang mewah dari sutra hitam beraksen perak berkilau, menonjolkan bahu lebar dan pinggang rampingnya. Derek baru saja tiba dari perbatasan, beban trauma masa kecilnya—sahabat yang hilang sepuluh tahun lalu—masih membayangi pikirannya seperti bayang artefak kuno. Hans mundur selangkah, gelasnya terguncang saat siku Derek tak sengaja menyenggol lengannya. Anggur merah membasahi dada jubah Derek, noda gelap menyebar lambat seperti darah di kain sutra. "Maafkan saya, Yang Mulia," gumam Hans cepat, suaranya lembut tapi gemetar, wajahnya memerah saat ia meraih serbet dari meja terdekat. Jari-jarinya menyentuh kain basah itu, aroma anggur pekat naik ke hidungnya, bercampur dengan wangi maskulin Derek—campuran logam artefak dan kayu cendana. Derek membeku sesaat, tatapannya turun ke noda itu, lalu naik ke wajah Hans. Ada sesuatu yang aneh, firasat yang menggelitik dada: rambut putih itu, mata heterokromia yang samar-samar familiar, seperti bayangan sahabat kecilnya yang lenyap di hutan perbatasan Mayland. Napas Derek tersendat, dinginnya mulai retak, digantikan gelombang posesif yang tak terduga. "Tidak apa," katanya pelan, suaranya dalam dan hangat, tangannya menyentuh pergelangan Hans saat ia mengambil serbet—sentuhan singkat tapi panas, seperti percikan artefak. Kulit Hans terasa halus di bawah jari Derek, memicu denyut nadi yang tak terkendali. Para bangsawan di sekitar berhenti berbisik, mata mereka tertuju pada keduanya. Peri-peri kecil di atas mendengung pelan, cahayanya berkedip-kedip seolah merasakan ketegangan. Derek tak melepaskan tatapan, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu yang mendalam, sementara tangan Hans masih menggantung di udara, menunggu reaksi selanjutnya. Udara terasa lebih tebal sekarang, aroma anggur bercampur keringat halus, dan Derek mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, bibirnya membentuk senyum tipis yang penuh janji tersembunyi.
2Chapter 2▾
Derek menahan napas sejenak, jari-jarinya masih melingkar longgar di pergelangan Hans, merasakan denyut nadi pemuda itu yang berdegup cepat seperti sayap peri yang terperangkap. Kulit Hans begitu halus, hangat, membangkitkan rasa penasaran yang membara di dada Derek—sebuah dorongan liar untuk menguji batas, untuk melihat bagaimana wajah a...
Derek menahan napas sejenak, jari-jarinya masih melingkar longgar di pergelangan Hans, merasakan denyut nadi pemuda itu yang berdegup cepat seperti sayap peri yang terperangkap. Kulit Hans begitu halus, hangat, membangkitkan rasa penasaran yang membara di dada Derek—sebuah dorongan liar untuk menguji batas, untuk melihat bagaimana wajah anggun itu memerah lebih dalam. Senyum tipisnya melebar menjadi lengkung sinis, matanya yang kuning kebiruan menyipit penuh godaan, mencium aroma anggur yang masih menempel di udara tebal di antara mereka. "Kau pikir sekadar meminta maaf cukup, anak haram?" bisiknya rendah, suaranya seperti beludru kasar yang mengiris, sengaja menekankan kata itu untuk menyengat. Para bangsawan di sekitar menahan napas, bisikan mereka mereda menjadi desis pelan, sementara cahaya peri di atas berkedip-kedip lebih cepat, seolah merespons ketegangan yang menjalar. Hans membeku, mata heterokromianya melebar, biru es dan hijau zamrud menangkap pantulan kilau jubah Derek yang basah. Derek menarik tangan Hans lebih dekat, memaksa pemuda itu menyentuh noda anggur di dadanya sendiri—jari-jari lentur itu kini menekan kain sutra yang menempel ketat pada otot dada lebarnya, merasakan panas tubuh di baliknya. "Lihat apa yang kau lakukan," lanjut Derek, suaranya menurun menjadi gumaman posesif, napasnya menyapu pipi Hans, membawa wangi kayu cendana dan logam artefak yang memabukkan. Ia menikmati ini—detik demi detik, melihat bagaimana bahu ramping Hans menegang, bagaimana napasnya tersengal pelan, dada naik-turun di bawah jubah hitam sederhana yang kini terasa terlalu ketat. Rasa familiar itu menggelitik lagi, seperti bisikan dari masa kecil yang hilang, tapi Derek mendorongnya ke samping, lebih tertarik pada getaran halus di bawah sentuhannya, pada cara bibir Hans mengerucut menahan gumaman. Tangan Derek bergeser, ibu jarinya menyusuri punggung tangan Hans dengan tekanan lambat, sengaja, menggosok noda basah itu lebih dalam ke kulitnya sendiri seolah menandai. "Kau suka menumpahkan barang berharga, ya? Atau ini caramu meminta perhatian dari putra mahkota?" Kata-katanya menusuk seperti duri berlapis madu, dingin tapi penuh panas yang tersembunyi, matanya menelusuri garis leher Hans, menangkap kilau keringat halus di lekuk tulang selangka yang seksi. Aroma anggur pekat bercampur keringat mereka, udara aula terasa lebih lembab, peri-peri kecil mendengung pelan di atas, cahayanya memantul pada rambut putih Hans yang tergerai, membuatnya tampak seperti mangsa yang memikat. Derek condong lebih dekat lagi, dada mereka hampir bersentuhan, panas tubuhnya menjalar ke Hans seperti artefak Dewi Bulan yang menyala—ia ingin melihat reaksi itu, ingin merasakan getar ketakutan bercampur hasrat yang tak terucap. Para bangsawan mulai berbisik lagi, tatapan mereka seperti jarum, tapi Derek tak peduli; ia tenggelam dalam momen ini, jari-jarinya kini menyentuh dagu Hans, memaksa wajah itu naik, mata kuning kebiruannya mengunci pandangan heterokromia itu dengan intensitas yang membakar. "Bersihkan dengan benar, atau aku akan buat kau membayarnya di depan semua orang," desisnya, suara dalamnya bergetar penuh janji gelap, napasnya panas di bibir Hans yang dekat. Udara di antara mereka berdenyut, aroma rempah panggang dari meja pesta menyusup samar, sementara Derek menunggu, tubuhnya tegang penuh antisipasi, mata para hadirin kini tertuju penuh, sebuah hembusan angin musim semi membawa kelopak bunga liar yang melayang pelan ke arah mereka.
3Chapter 3▾
Jari-jari Hans gemetar saat ia meraih kerah jubah hitamnya sendiri, menariknya terbuka dengan gerakan lambat yang penuh keraguan, kancing-kancing sutra lepas satu per satu, memperlihatkan dada rampingnya yang seksi, kulit pucat halus berkilau di bawah cahaya peri yang berkedip. Napasnya tersengal, air mata tipis menggenang di sudut mata h...
Jari-jari Hans gemetar saat ia meraih kerah jubah hitamnya sendiri, menariknya terbuka dengan gerakan lambat yang penuh keraguan, kancing-kancing sutra lepas satu per satu, memperlihatkan dada rampingnya yang seksi, kulit pucat halus berkilau di bawah cahaya peri yang berkedip. Napasnya tersengal, air mata tipis menggenang di sudut mata heterokromianya, satu tetes jatuh pelan mengikuti garis pipi anggunnya saat tangan lenturnya menyentuh noda anggur di dada Derek. Ia menggosok kain basah itu dengan serbet, jari-jarinya menekan otot tegas di baliknya, merasakan panas tubuh putra mahkota yang membara, aroma anggur pekat bercampur keringat maskulin yang memabukkan. Para bangsawan tersentak, bisikan mereka meledak seperti hembusan angin, tapi Derek hanya menatap, matanya kuning kebiruan membelalak sesaat melihat dada telanjang Hans—lekuk otot halus, puting kecil yang mengeras di udara malam, rambut putih panjang yang tergerai menari pelan. Derek merasa dada sesak, rasa tak tega menyergap seperti artefak Dewi Bulan yang retak—ini kelewatan, terlalu jauh di depan mata-mata kerajaan. Tanpa kata, tangannya mencengkeram pergelangan Hans erat tapi lembut, menariknya menjauh dari kerumunan, melewati koridor marmer yang dingin di mana cahaya peri memantul samar pada dinding berhias permata. Langkah mereka cepat, napas Hans tersengal di belakang, aroma bunga liar dari taman menyusup melalui jendela, bercampur wangi sutra basah mereka. Mereka memasuki kamar kerajaan pribadi Derek, pintu kayu cendana tertutup pelan, menyisakan desis engsel yang bergema. Udara di dalam lebih hangat, aroma lilin lebah dan rempah kuno memenuhi ruangan, cahaya obor artefak menyala redup di dinding batu, menerangi ranjang lebar berbalut sutra hitam. Derek melepaskan tangan Hans, matanya tak lepas dari dada telanjang itu—setiap inci kulit pucat, setiap hembusan napas yang membuat dada naik-turun, setiap kilau keringat halus di lekuk perut ramping. Ia menikmati pemandangan itu, denyut hasrat membara di nadinya, tapi ia berpaling, meraih lemari berukir, mengeluarkan atasan sutra tipis berwarna perak, kain halus yang mengalir seperti air bulan. ´Pakai ini,´ gumamnya pelan, melemparkannya lembut ke arah Hans, suaranya kini hangat, posesif. Hans menangkap kain itu, suaranya pecah saat bertanya, ´Kenapa Yang Mulia begitu membenci saya?´ Derek tersenyum tipis, menghela napas panjang, bibirnya terbuka hendak bicara—firasat familiar itu menggelitik lagi, ingin meluncur kata-kata tentang masa kecil yang hilang. Tapi Hans mendahului, ´Maafkan saya,´ gumamnya cepat, memeluk atasan sutra ke dada telanjangnya, berbalik menuju pintu dengan langkah tergesa. Derek melangkah maju, tangannya terulur menyentuh bahu Hans pelan, napasnya hangat di tengkuk rambut putih itu, sementara aroma lilin lebah semakin pekat, obor artefak berkedip samar seolah menunggu hembusan selanjutnya.




