Gairah Membara
Public Story

Gairah Membara

Matahari sore menembus tirai tipis, membelai kulit Viola dengan cahaya keemasan yang lembut. Dia berdiri di depan jendela apartemen, gaunnya yang tipis hampir tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya yang mempesona.

SereneSylph528
AuthorSereneSylph528
Created15. April 2026
Chapters11

Story context

World description

this story happen in real world with a twist: sex is not a taboo

Initial situation

The main character and Viola are living together in an apartment

Objective

have fun

Character introduction

Budi Angkasa

Budi Angkasa

Role: Main Character

PersonalityA calm, cold, and calculating person, Budi always think first before acting.
Flawshe is a pervert and weak to sexy woman, especially young and sexy women.
AppearanceModerately handsome, black hair, brown eyes. Height: 187cm tall. Build: medium build, slightly toned muscle. Outfit: wearing casual t shirt and shorts. Other: Have a massive 70cm long and an arms thick veiny dick. Testicles as large as a tennis ball.
BackstoryBudi are the one and only male child, while having one older sister and two little sister. his family are one of the nine dragons of indonesia, meaning his family are one of the nine wealthiest family in indonesia.
RelationshipPeter and viola are friends

Chapter samples

1
Chapter 1
Tap to expand and read the excerpt

Matahari sore menembus tirai tipis, membelai kulit Viola dengan cahaya keemasan yang lembut. Dia berdiri di depan jendela apartemen, gaunnya yang tipis hampir tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya yang mempesona. Kain itu, nyaris tak terlihat, menari mengikuti hembusan angin lembut, memperlihatkan siluet payudaranya yang besar dan pinggulny...

Matahari sore menembus tirai tipis, membelai kulit Viola dengan cahaya keemasan yang lembut. Dia berdiri di depan jendela apartemen, gaunnya yang tipis hampir tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya yang mempesona. Kain itu, nyaris tak terlihat, menari mengikuti hembusan angin lembut, memperlihatkan siluet payudaranya yang besar dan pinggulnya yang lebar. Peter, yang duduk di sofa, merasakan panas menjalar di sekujur tubuhnya. Dia mencoba untuk tidak menatap, tetapi matanya terpaku pada pemandangan di depannya. Viola, dengan punggung telanjangnya yang mulus dan rambut hitamnya yang panjang tergerai, tampak seperti dewi yang turun dari surga. "Pemandangan yang indah, bukan?" tanya Viola, tanpa menoleh. Suaranya lembut dan merdu, seperti alunan musik yang memabukkan. "Ya, sangat indah," jawabnya, suaranya tercekat. Dia tahu dia seharusnya mengatakan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih cerdas atau lebih sopan, tetapi pikirannya kosong. Yang bisa dia pikirkan hanyalah bagaimana rasanya menyentuh kulitnya yang halus, merasakan berat payudaranya di tangannya. Viola berbalik, senyum tipis menghiasi bibirnya. Dia berjalan mendekat, langkahnya anggun dan mempesona. Peter merasakan jantungnya berdebar kencang. Dia tahu ini tidak benar, dia tidak seharusnya menginginkan temannya seperti ini, tetapi dia tidak bisa menahannya. "Kamu terlihat tegang," kata Viola, berhenti tepat di depannya. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh dahinya. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" Sentuhan itu membakar kulitnya. Dia menahan napas, berusaha mengendalikan dirinya. "Tidak ada," jawabnya, suaranya bergetar. "Hanya sedikit lelah." Viola terkekeh pelan. "Bohong," katanya. "Aku tahu kamu lebih baik dari itu." Dia menurunkan tangannya dan menyentuh dadanya. "Aku bisa merasakan detak jantungmu yang cepat." Peter menelan ludah. Dia tidak bisa lagi menghindari tatapannya. Matanya, yang biasanya penuh dengan keceriaan dan kepolosan, kini berkilat dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap, lebih menggoda. "Viola," bisiknya, suaranya parau. "Jangan seperti ini." "Kenapa tidak?" tanyanya, mendekat. "Apa kamu tidak menyukaiku?" "Tentu saja aku menyukaimu," jawabnya, putus asa. "Kamu adalah temanku." "Tapi aku ingin lebih dari itu," bisiknya, bibirnya hanya beberapa inci dari bibirnya. "Aku ingin kamu menginginkanku." Dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia menginginkannya, lebih dari apa pun di dunia ini. Dia ingin menciumnya, memeluknya, merasakan tubuhnya yang hangat dan lembut. Tetapi dia tahu itu salah. Dia tidak bisa melakukan ini padanya. Viola tersenyum, seolah dia bisa membaca pikirannya. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh bibirnya. "Jangan khawatir," bisiknya. "Aku tahu kamu menginginkanku juga." Napasnya tercekat. Dia tidak bisa lagi menahan diri. Dia meraih pinggangnya dan menariknya mendekat. Tubuh mereka bersentuhan, panas dan menggairahkan. Dia bisa merasakan payudaranya yang besar menekan dadanya, pinggulnya yang lebar menekan selangkangannya. Dia mengerang pelan, tidak bisa menahan diri. "Peter," bisiknya, bibirnya menyentuh telinganya. "Cium aku." Udara di sekitar mereka terasa tebal dan berat dengan hasrat yang tak terucapkan. Sinar matahari senja memudar, meninggalkan ruangan dalam bayangan yang sensual dan misterius, menunggu langkah selanjutnya.

2
Chapter 2
Tap to expand and read the excerpt

Peter, yang tidak dapat lagi menahan nafsunya, mencium Viola dengan hasrat yang tidak terbendung. Bibirnya ia lumat dengan penuh nafsu, mulutnya ia jelajahi dengan lidah yang seakan lapar dan haus akan sentuhan. Lidahnya menari-nari di dalam mulut Viola, menyesap setiap inci dengan kerakusan yang tak tertahankan. Viola membalas ciuman itu...

Peter, yang tidak dapat lagi menahan nafsunya, mencium Viola dengan hasrat yang tidak terbendung. Bibirnya ia lumat dengan penuh nafsu, mulutnya ia jelajahi dengan lidah yang seakan lapar dan haus akan sentuhan. Lidahnya menari-nari di dalam mulut Viola, menyesap setiap inci dengan kerakusan yang tak tertahankan. Viola membalas ciuman itu dengan penuh semangat, membuka bibirnya lebih lebar untuk membiarkan Peter masuk lebih dalam. Dengan tangan kanannya, Peter menyentuh dan meremas payudara Viola dari luar gaun tipisnya. Sentuhan itu membakar kulitnya, membuat Viola mendesah pelan di sela-sela ciuman mereka. Jari jempol dan telunjuk tangan kanannya merangsang dan memuntir pentil payudaranya, mengirimkan gelombang kenikmatan ke seluruh tubuh Viola. Dia melengkungkan punggungnya, mendorong dadanya lebih dekat ke tangan Peter, seolah memohon untuk sentuhan yang lebih intens. Tangan kiri Peter ia letakkan pada bokong semok Viola, ia elus dan pukul manja. Setiap sentuhan membuat Viola menggeliat kegirangan, tubuhnya menempel semakin erat pada Peter. Dia bisa merasakan panas tubuh Peter yang membara, membuatnya semakin menginginkan sentuhan yang lebih intim. Setelah ciuman yang panjang dan bergairah, Peter akhirnya melepaskan bibirnya dari bibir Viola. Mereka berdua terengah-engah, napas mereka saling bercampur di udara. Mata mereka bertemu, dipenuhi dengan hasrat dan keinginan yang sama. "Sungguh sungguh, kau memang sangat menggoda Viola, aku sudah mencoba menahan nafsuku, kau malah menggoda ku," ucapnya sambil terengah. Suaranya serak dan berat, mencerminkan gejolak yang sedang berkecamuk di dalam dirinya. Penis Peter pun perlahan membesar dan mengeras, menekan gaun Viola yang tipis. Viola bisa merasakan tonjolan itu di antara kakinya, membuatnya semakin bergairah. Dia menatap Peter dengan tatapan menggoda, seolah menantangnya untuk melakukan sesuatu. Peter tidak bisa menahan diri lagi. Dia mengangkat Viola dan membawanya ke kamar tidur, langkahnya mantap dan penuh tekad. Viola melingkarkan kakinya di pinggang Peter, tubuhnya menempel erat padanya. Dia tidak sabar untuk merasakan sentuhan Peter di seluruh tubuhnya, untuk merasakan sensasi yang membara di antara kakinya. Peter menjatuhkan Viola di tempat tidur dengan lembut. Gaun tipisnya tersingkap, memperlihatkan paha mulusnya yang indah. Peter berlutut di depannya, matanya menelusuri setiap inci tubuh Viola dengan penuh kekaguman. Dia mulai menciumi leher Viola, memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Viola menggeliat dan mendesah. Tangannya merayap ke bawah, membuka kancing gaun Viola dengan perlahan. Kain itu meluncur ke bawah, memperlihatkan tubuh Viola yang telanjang dan menggairahkan. Payudaranya yang besar dan montok menyembul dengan indah, putingnya yang merah muda mengeras karena rangsangan. Peter tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Dia meremas payudara Viola dengan lembut, lalu menjilat dan menghisap putingnya dengan penuh nafsu. Viola menjambak rambut Peter, mengerang dengan kenikmatan yang tak tertahankan. Tubuhnya bergetar hebat, seolah tersengat aliran listrik yang kuat. Dia tidak pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya, dan dia tidak ingin ini berakhir. Peter terus menciumi dan menjilati tubuh Viola, memberikan perhatian khusus pada setiap bagian yang paling sensitif. Dia ingin memuaskan setiap keinginannya, untuk membuatnya merasakan kenikmatan yang tak terlupakan. Lidahnya menari-nari di antara kedua kakinya, menjilat dan menyesap setiap tetes cairan yang keluar dari vaginanya. Viola berteriak keras, tubuhnya melengkung ke atas. Dia merasakan orgasme yang dahsyat, membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia mencengkeram seprai dengan erat, berusaha menahan gelombang kenikmatan yang menerjangnya. Peter terus menjilati Viola hingga dia benar-benar puas. Dia kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Viola dengan tatapan penuh cinta dan hasrat. Dia tahu bahwa ini hanyalah awal dari petualangan cinta mereka yang panjang dan penuh gairah. Viola membalas tatapan Peter, senyum manis menghiasi bibirnya. Tubuhnya masih bergetar karena orgasme, tetapi dia merasa bahagia dan puas. Dia tidak sabar untuk merasakan sentuhan Peter lagi, untuk merasakan sensasi yang membara di antara kakinya.

3
Chapter 3
Tap to expand and read the excerpt

Peter tersenyum melihat reaksi Viola yang begitu menikmati sentuhannya. Dengan lembut, ia memainkan klitoris Viola, menggunakan ujung jari jempolnya untuk menyentuh dan menekan dengan gerakan memutar yang perlahan namun pasti. Sentuhan itu seperti aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Viola, membuatnya menggeliat dan mendesah liri...

Peter tersenyum melihat reaksi Viola yang begitu menikmati sentuhannya. Dengan lembut, ia memainkan klitoris Viola, menggunakan ujung jari jempolnya untuk menyentuh dan menekan dengan gerakan memutar yang perlahan namun pasti. Sentuhan itu seperti aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Viola, membuatnya menggeliat dan mendesah lirih. Kemudian, Peter mencubit-cubit manja klitoris Viola, memberikan sedikit tekanan yang membuat Viola semakin bergairah. Ia menatap mata Viola, mencari tanda-tanda bahwa sentuhannya menyenangkan baginya. Mata Viola terpejam, bibirnya sedikit terbuka, dan napasnya tersengal-sengal. Peter tahu bahwa ia berada di jalur yang benar. Dengan sangat halus, Peter menjilat klitoris Viola, memberikan sentuhan basah dan hangat yang membuat Viola menggeliat lebih hebat. Lidahnya menari-nari di atas klitorisnya, memberikan tekanan yang lembut namun memuaskan. Ia menghisap dan menggigit klitoris Viola dengan hati-hati, memastikan bahwa Viola merasakan kenikmatan tanpa rasa sakit. "Apakah hari ini termasuk hari aman Viola? atau aku harus menggunakan kondom?" tanya Peter, suaranya serak dan berat karena hasrat yang membara. Tanpa menunggu jawaban, Peter memasukkan satu jarinya ke vagina Viola, merasakan betapa basahnya ia karena rangsangan yang telah ia berikan. Viola sudah sangat siap untuk menerima dirinya. Dinding vaginanya yang hangat dan licin mencengkeram jarinya dengan erat, memberikan sensasi yang luar biasa. Peter tersenyum puas, ia tahu bahwa Viola sangat menginginkannya. Ia bisa merasakan denyutan di antara kedua kakinya, tanda bahwa Viola sudah sangat terangsang. Peter terus memainkan klitoris Viola dengan jarinya yang lain, sementara jarinya yang di dalam vagina bergerak maju mundur dengan gerakan yang semakin cepat. Viola mengerang semakin keras, tubuhnya melengkung ke atas, dan kakinya mencengkeram seprai dengan erat. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Napas Viola semakin cepat dan dangkal, wajahnya memerah, dan tubuhnya bergetar hebat. Peter tahu bahwa ia sudah dekat dengan klimaksnya. Ia terus memberikan rangsangan yang semakin intens, membuat Viola semakin kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Tiba-tiba, tubuh Viola menegang, ia berteriak keras, dan vaginanya berdenyut-denyut dengan hebat. Ia baru saja mencapai orgasme yang dahsyat, membuatnya merasa lemas dan puas. Peter terus menjilati dan menghisap klitoris Viola, memastikan bahwa ia benar-benar puas. Setelah beberapa saat, Viola mulai tenang. Tubuhnya masih bergetar, tetapi ia merasa bahagia dan damai. Ia membuka matanya dan menatap Peter dengan tatapan penuh cinta dan hasrat. Peter membalas tatapan itu dengan senyuman lembut. Ia tahu bahwa ini hanyalah awal dari petualangan cinta mereka yang panjang dan penuh gairah. Jari Peter terus bergerak di dalam Viola, menciptakan sensasi lembut dan memabukkan.

Read more
Go to Top