
Hujan dan Sang Vampir
Tetes hujan menghantam atap rumahku seperti genderang yang tak sabar. Di layar televisi, adegan romantis sebuah film terasa begitu jauh dari kenyataan di luar sana.
Story context
World description
di rumah Nayla
Initial situation
Aku Nayla sedang nonton fim di tv di luar rumah sedang hujan deras tiba tiba ada yang mengetuk pintu aku membuka pintu melihat seorang pria yang kedinginan meminta tempat berteduh aku mempersilakan masuk pria itu memperkenalkan diri sebagai Fariz kami pun ngobrol aku mulai suka dengan nya tiba tiba aku melihat taring di gigi Fariz aku sadar Fariz adalah vampir aku berkata kau vampir Fariz berkata bukan Aku berkata udah jujur s...
Objective
Nayla Ingin melindungi Fariz membelanya menuruti semua permintaan nya bahkan memberikan darahnya sendiri untuk Fariz
Character introduction

Nayla
Role: Manusia
Chapter samples
1Chapter 1▾
Tetes hujan menghantam atap rumahku seperti genderang yang tak sabar. Di layar televisi, adegan romantis sebuah film terasa begitu jauh dari kenyataan di luar sana. Aku, Nayla, meringkuk di sofa, mencoba mengusir dingin yang merayap masuk meski jendela sudah tertutup rapat. Tiba-tiba, suara ketukan di pintu memecah keheningan. Aku bangki...
Tetes hujan menghantam atap rumahku seperti genderang yang tak sabar. Di layar televisi, adegan romantis sebuah film terasa begitu jauh dari kenyataan di luar sana. Aku, Nayla, meringkuk di sofa, mencoba mengusir dingin yang merayap masuk meski jendela sudah tertutup rapat. Tiba-tiba, suara ketukan di pintu memecah keheningan. Aku bangkit, sedikit malas, dan melangkah menuju pintu. Di balik pintu, seorang pria berdiri menggigil. Rambutnya basah kuyup, menempel di wajahnya yang pucat. "Maaf, Nona," katanya dengan suara serak, "bisakah saya berteduh sebentar? Hujan sangat deras." Tanpa ragu, aku mempersilahkannya masuk. "Tentu saja. Masuklah, Anda bisa sakit kalau terus di luar." Pria itu, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Fariz, mengucapkan terima kasih berkali-kali. Aku menyuruhnya duduk di dekat perapian yang untungnya masih menyala. Sementara dia menghangatkan diri, aku membuatkan teh panas. "Saya Fariz," ucapnya sambil menerima cangkir teh yang ku sodorkan. "Nayla," jawabku singkat. Kami mulai mengobrol. Fariz ternyata orang yang menyenangkan. Pembicaraannya cerdas dan membuatku tertawa. Entah kenapa, jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Aku mulai menyukainya. Saat Fariz tertawa, aku tanpa sengaja melihat sesuatu yang aneh. Kilatan tajam di balik bibirnya. Taring. Seketika, duniaku terasa berhenti berputar. "Kau... vampir?" tanyaku lirih, nyaris tak terdengar. Fariz terdiam. Matanya yang tadi bersinar hangat kini meredup. "Bukan," jawabnya pelan, namun aku tahu dia berbohong. "Sudahlah, jujur saja. Jangan menyembunyikannya," desakku. "Aku janji tidak akan memberi tahu siapa pun." Fariz menghela napas panjang. "Iya, aku vampir." Aku menatapnya, mencoba mencari rasa takut di dalam diriku. Tapi yang kurasakan justru... ketertarikan yang semakin besar. Aneh. Seharusnya aku takut, berteriak, dan mengusirnya. Tapi aku malah merasa... penasaran. "Aku tidak takut," ucapku, lebih pada diri sendiri. Fariz menatapku tak percaya. "Kau... tidak takut?" Aku menggeleng. "Justru... aku malah semakin menyukaimu." Fariz tertegun. Keheningan menyelimuti kami, hanya dipecah oleh suara hujan yang semakin menggila di luar sana. Tatapan matanya menyelidik, seolah mencari kebohongan di wajahku. Lalu, dia bergeser sedikit, mendekatiku. Aroma tanah basah dan sesuatu yang manis, seperti karamel, menguar dari tubuhnya, memenuhi indraku.
2Chapter 2▾
"Aku dulunya tinggal di dunia vampir," Fariz memulai, suaranya rendah dan bergetar. "Dunia vampir dan dunia manusia adalah dua dunia yang berbeda. Itu sebabnya manusia tidak percaya akan keberadaan kami." Aku mendengarkan dengan saksama, terpaku oleh setiap kata yang diucapkannya. "Aku berbeda dari vampir lainnya," lanjutnya. "Aku terla...
"Aku dulunya tinggal di dunia vampir," Fariz memulai, suaranya rendah dan bergetar. "Dunia vampir dan dunia manusia adalah dua dunia yang berbeda. Itu sebabnya manusia tidak percaya akan keberadaan kami." Aku mendengarkan dengan saksama, terpaku oleh setiap kata yang diucapkannya. "Aku berbeda dari vampir lainnya," lanjutnya. "Aku terlalu takut untuk bertarung. Aku... aku vampir yang penakut. Karena itulah aku diusir dari duniaku. Aku pun datang ke dunia manusia. Aku... aku hanya ingin ada seseorang yang melindungiku, yang mau menerimaku apa adanya." Hatiku mencelos mendengar pengakuannya. Ada nada keputusasaan yang menyayat dalam suaranya. Aku merasa iba padanya. "Fariz," ujarku lembut, "kau boleh tinggal di rumahku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu." Mata Fariz membulat. "Sungguh?" Aku mengangguk mantap. "Sungguh. Tapi..." Aku terdiam sejenak. "Jangan sampai ada cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah ini. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa." Tanpa menunggu jawaban, aku bergegas menutup semua jendela dan mengunci pintu rapat-rapat. Hujan masih mengguyur di luar sana, tetapi di dalam rumah, kami menciptakan dunia kami sendiri, terbebas dari ancaman matahari. Aku kembali ke tempat Fariz berada. "Sudah aman sekarang. Cahaya matahari tidak akan bisa masuk." Keheningan kembali menyelimuti kami. Aku memberanikan diri menatap matanya dalam-dalam. "Fariz," ucapku dengan suara bergetar, "maukah kau menjadi pacarku? Aku... aku akan memanggilmu sayang." Wajah Fariz menunjukkan keterkejutan yang mendalam. Dia tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. "Mau," jawabnya akhirnya, dengan nada yang hampir tak terdengar. "Tapi... ada syaratnya. Kau yakin bisa memenuhinya?" "Apa pun itu," balasku tanpa ragu. "Aku akan melakukan apa pun untukmu." Fariz menarik napas dalam-dalam. "Kau harus memberikan darahmu untukku pada saat aku haus." Aku terdiam sejenak. Permintaan ini... tidak terduga. Tapi kemudian, aku tersenyum. "Baiklah," jawabku mantap. "Aku bersedia." Fariz menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada kelegaan, kebahagiaan, dan mungkin... rasa bersalah? Aku tidak tahu pasti. Lalu, tatapannya beralih ke leherku, tepat di bagian nadiku berdenyut. Aku bisa merasakan hawa dingin dari tubuhnya mendekat, aroma karamel yang memabukkan semakin kuat menusuk indraku. Napas Fariz terasa hangat di kulitku, membuat bulu kudukku meremang.
3Chapter 3▾
"Aku haus," bisik Fariz, suaranya serak dan penuh harap. "Bolehkah aku... meminum darahmu?" Jantungku berdegup kencang, tetapi aku berusaha menenangkan diri. Ini adalah permintaannya, syarat yang harus kupenuhi. Aku sudah berjanji, dan aku tidak akan menariknya kembali. "Boleh," jawabku mantap. "Ambillah." Aku mengulurkan tanganku, tel...
"Aku haus," bisik Fariz, suaranya serak dan penuh harap. "Bolehkah aku... meminum darahmu?" Jantungku berdegup kencang, tetapi aku berusaha menenangkan diri. Ini adalah permintaannya, syarat yang harus kupenuhi. Aku sudah berjanji, dan aku tidak akan menariknya kembali. "Boleh," jawabku mantap. "Ambillah." Aku mengulurkan tanganku, telapak menghadap ke atas, pergelangan tangan terbuka lebar. Fariz menatapnya sejenak, matanya berkilat-kilat antara ragu dan hasrat. "Ini akan sakit," ucapnya lirih, "Tolong, tahanlah. Jangan berteriak." Aku mengangguk, menggigit bibir bawahku untuk mempersiapkan diri. "Aku akan berusaha." Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Fariz meraih pergelangan tanganku. Sentuhan kulitnya dingin, kontras dengan panas yang tiba-tiba menjalar di tubuhku. Aku bisa merasakan taringnya yang tajam menyentuh kulitku, mencari titik yang tepat. Kemudian, rasa sakit itu datang. Tajam, menusuk, dan membakar. Aku hampir menjerit, tetapi aku berhasil menahannya. Aku memejamkan mata, mencoba fokus pada hal lain selain rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Perlahan, aku membuka mataku. Kulihat Fariz, matanya terpejam, wajahnya menunjukkan kenikmatan yang mendalam. Ia tampak sangat menikmati darahku. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Tanpa sadar, aku pun tersenyum. Aku mengusap rambutnya dengan lembut, merasakan teksturnya yang halus di antara jemariku. Aku membiarkannya menggigitku, memberikan apa yang ia butuhkan. Aku tidak ingin mengganggunya. Setelah beberapa saat, Fariz berhenti. Ia menjilat sisa-sisa darah di pergelangan tanganku, sentuhannya lembut dan menenangkan. Tiba-tiba, tanpa peringatan, ia menggigitku lagi. Rasa sakitnya kembali, tetapi kali ini aku lebih siap. Aku tetap membuka mata, ingin melihat Fariz menikmati darahku. Senyumku tidak pudar. Aku tahu, ini adalah pengorbanan kecil untuk seseorang yang kucintai. Fariz kembali berhenti, kali ini lebih lama. Ia mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata yang berkilat penuh emosi. Aku bisa melihat kelegaan, kebahagiaan, dan rasa terima kasih yang tak terhingga di sana. Bekas gigitan di pergelangan tanganku terasa perih dan sedikit berdenyut. Aku tahu, bekas ini akan menjadi pengingat akan malam ini, malam di mana aku memberikan diriku sepenuhnya pada Fariz. Hujan di luar masih mengguyur dengan derasnya, menciptakan irama yang menenangkan di tengah keheningan kamar.




