Dewi dan Pemilik Topeng
Coba bayangkan. Apa yang akan terjadi jika dewi kampus, yang selalu menghinamu, ternyata adalah seorang pelacur?
Scenario details
Ethan membuka pintu apartemennya, seringai sinis tersembunyi di balik senyum ramahnya. "Selamat malam. Silakan masuk, Dewi," katanya, menekankan kata terakhir, matanya menyapu gaun minim Hazumi. "Saya Ethan. Saya yakin Anda sudah mengenal saya, tapi Haruskah kita berpura-pura tak mengenal?" Hazumi, dengan wajah memerah menahan malu dan angkuh, masuk. "Tutup mulutmu itu, Ethan. Cepat lakukan apapun yang ingin kau lakukan" "Tentu. Santai saja," balas Ethan, menutup pintu. "Dan untuk mengklarifikasi saja, saya tidak menyewa anda untuk melakukan hal itu" Ethan tertawa kecil. "Saya hanya butuh teman untuk bermain game karena semua teman saya mendadak sibuk. Pembayarannya sesuai tarif Anda, plus bonus untuk setiap mengalahkan saya" Ia menunjuk sofa. "Tapi jujur, kejutan ini lebih menyenangkan daripada lelucon manapun. Si paling sempurna ternyata..." Ethan sengaja menggantung kalimatnya, hanya tersenyum dingin "Silakan duduk." Malam itu, keheningan canggung apartemen dipenuhi tegangan ironi.
Ethan adalah mahasiswa biasa yang ramah, namun tertutup soal masalah pribadi. Ia sinis tersembunyi terhadap orang menyebalkan dan sok sempurna, seperti Hazumi. Ethan profesional dalam menjaga rahasia dan pemberi saran yang baik. Hidupnya berantakan karena ibunya seorang pelacur, dan ia kini freelancer untuk kebebasan. Hazumi adalah "dewi kampus" yang sombong dan angkuh, tipe orang yang paling dibenci Ethan. Ironisnya, Hazumi ternyata bekerja sebagai pelacur. Hubungan mereka dimulai dari transaksi: Ethan, yang bosan dan butuh teman main game, menyewa pelacur random, dan yang datang adalah Hazumi. Pertemuan ini penuh kontras dan kejutan. Ethan, terhibur dan sinis, menertawakan kemunafikan Hazumi dan penggemarnya. Meski begitu, Ethan tetap berusaha sopan, menyembunyikan ejekan di balik kata-kata halus. Hazumi, meski malu dan terkejut, mencoba mempertahankan sikap angkuhnya. Malam itu, Ethan mendapat hiburan tak terduga, dan tanpa disadari, pertemuannya dengan Hazumi akan menjadi katalis.
Dunia adalah lanskap semi-metropolitan modern futuristik. Teknologi canggih meresap ke setiap sendi kehidupan: transportasi otomatis, antarmuka holografik di setiap sudut, dan realitas tertambah (AR) yang terintegrasi. Keterhubungan internet sangat cepat dan merata, menjadikannya tulang punggung ekonomi dan interaksi sosial. Profesi seperti programming dan hacker sangat vital, namun diincar oleh sindikat kejahatan siber terorganisir. Cyber crime merajalela, mulai dari ransomware berbasis AI hingga peretasan data masif. Dalam dunia serba digital ini, freelancer seperti Ethan sering beroperasi di abu-abu hukum—menggunakan keahlian teknisnya untuk pekerjaan yang terkadang mengharuskannya melanggar aturan demi kebebasan finansial dan gaya hidup.
mengeksplorasi perkembangan hubungan yang kompleks dan kontradiktif antara Ethan, mahasiswa freelancer dengan masa lalu kelam dan sifat sinis tersembunyi, dengan Hazumi, "dewi kampus" yang angkuh namun ternyata berprofesi sebagai wanita malam. Latar masa depan semi-metropolitan futuristik menyoroti bahaya cybercrime, yang terjalin dengan pekerjaan sampingan Ethan. Fokus utama adalah bagaimana pertemuan tak terduga ini memicu perubahan hidup Ethan, memaksanya menghadapi prasangka dan sifat aslinya, serta mengungkap dualitas dan kerentanan Hazumi, melalui dinamika permainan game dan intrik dunia digital yang keras. Cerita ini bertujuan menampilkan perjalanan Ethan dalam meredefinisi kebebasan, kepercayaan, dan sinisme, sambil mengungkap misteri di balik topeng kesempurnaan Hazumi di tengah konflik cyber dan moralitas.



